Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra. (BP/yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Pembangunan gedung baru RSUD Kabupaten Buleleng disiapkan melalui skema tahun jamak atau multiyears. Langkah ini ditempuh karena proyek yang diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp200 miliar tersebut membutuhkan waktu pengerjaan kurang lebih 12 bulan, sehingga berpotensi melintasi tahun anggaran.

Dua gedung yang masuk dalam rencana pembangunan ini yakni gedung Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (Ponek) serta gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) yang terintegrasi dengan Stroke Center. Keduanya dirancang bertingkat hingga empat lantai dengan menyesuaikan kontur lahan RSUD Buleleng yang tidak rata.

Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra mengatakan, pembangunan masih berada pada tahap persiapan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng saat ini tengah memproses pelelangan manajemen konstruksi (MK), yang akan dilanjutkan dengan penyusunan master plan atau rencana induk pembangunan. “Bulan ini untuk MK-nya. Setelah itu dilanjut membuat perencanaan master plan-nya. Mungkin di Desember selesai,” ujar Sutjidra, Selasa (20/10).

Baca juga:  Hasil Uji Lab Kue Dibagi Orang Tak Dikenal di Gianyar Sudah Keluar

Pemkab Buleleng berharap proses lelang dan pelaksanaan pekerjaan dapat dimulai pada awal 2027. Sementara itu, kebutuhan anggaran yang disiapkan secara awal mencapai Rp200 miliar.

Nilai tersebut masih dapat berubah setelah dilakukan penghitungan lebih terperinci dengan mempertimbangkan harga material dan kebutuhan pembangunan terkini. “Sekarang sedang dikoreksi anggarannya secara detail. Cuma secara gelondongan disiapkan Rp200 miliar. Anggaran itu bisa berkurang, tergantung fluktuasi harga-harga kekinian,” katanya.

Dengan perkiraan pengerjaan selama 12 bulan, penganggaran melalui skema multiyears dinilai diperlukan agar pelaksanaan proyek dapat berlangsung lintas tahun anggaran. Untuk itu, Pemkab Buleleng mengusulkan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang tahun jamak sebagai dasar penganggaran pembangunan tersebut.

Baca juga:  Masak Nasi dengan Minyak Kelapa Berkhasiat Turunkan Kalori

Dari sisi fasilitas, pembangunan dua gedung baru ini diharapkan memperkuat kapasitas pelayanan rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut. Selain penambahan ruang pelayanan, proyek juga mencakup puluhan tempat tidur rawat inap serta fasilitas Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dengan kapasitas 20 tempat perawatan.

Sutjidra menegaskan, persiapan pembangunan tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur. Manajemen RSUD Buleleng juga telah menyiapkan relokasi pelayanan pasien selama pekerjaan berlangsung. Pengaturan tersebut diperlukan agar aktivitas konstruksi tidak menghambat pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Di sisi lain, Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya mengatakan, pihaknya telah menyetujui penganggaran pembangunan rumah sakit dengan skema tahun jamak. Skema ini dipilih karena pengerjaan proyek tidak dapat dituntaskan dalam satu tahun anggaran.

“Semua menyetujui penganggaran Rp200 miliar di tahun jamak (multiyears). Dan kita sudah memikirkan skema pembayaran, sudah tanyakan dengan BKAD, semua aman,” ujar Ngurah Arya.

Baca juga:  Pembebasan Lahan Tambahan Shortcut Titik 9-10 Dianggarkan Rp11,6 Miliar

Meski penganggaran telah disepakati, DPRD mengingatkan agar Pemkab Buleleng memastikan kesiapan seluruh komponen pendukung sebelum gedung mulai difungsikan. Pemilihan rekanan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, mengingat pembangunan mencakup fasilitas kesehatan dengan kebutuhan teknis yang tidak sederhana.

Selain kualitas pengerjaan fisik, ketersediaan alat kesehatan (alkes) dan tenaga kesehatan (nakes) juga perlu dipersiapkan sejak awal. Menurut Ngurah Arya, keberadaan gedung baru harus diikuti kesiapan sarana dan sumber daya manusia agar fasilitas yang dibangun dapat langsung mendukung pelayanan.

“Alkes dan nakes harus dipikirkan dari sekarang. Jangan sampai ketika rampung di 2028, bangunan berdiri tapi alkes tidak ada, apalagi nakes,” ucapnya. (Nyoman Yudha/balipost)

BAGIKAN