Petugas dan warga melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk.(BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Tabanan tercatat sebanyak 100 kasus hingga Oktober 2026, atau turun sekitar 85 persen dibandingkan 664 kasus sepanjang 2025. Meski mengalami penurunan, namun Kecamatan Kerambitan masih menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 19 kasus.

Sekretaris Dinas Kesehatan (Diskes) Tabanan, dr. Wayan Arya Putra Manuaba, mengatakan penurunan kasus DBD dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari musim kemarau yang cukup panjang hingga meningkatnya keterlibatan masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Menurutnya, berkurangnya genangan air selama musim kemarau turut mengurangi tempat perkembangbiakan nyamuk. Namun, kondisi tersebut tidak boleh membuat masyarakat mengabaikan upaya pencegahan.

Baca juga:  Kasus DBD di Bali Alami Peningkatan, Ini 3 Wilayah Terbanyak

“Penurunan kasus ini patut disyukuri, tetapi masyarakat tetap harus waspada. Pemeriksaan jentik dan kebersihan lingkungan perlu dilakukan secara rutin agar perkembangbiakan nyamuk bisa dikendalikan,” ujarnya, belum lama ini.

Berdasarkan data Diskes Tabanan, setelah Kerambitan, Kecamatan Kediri menempati urutan kedua dengan 18 kasus, disusul Kecamatan Tabanan sebanyak 14 kasus dan Baturiti 13 kasus.

Sementara itu, Kecamatan Penebel, Selemadeg, dan Selemadeg Timur masing-masing mencatat delapan kasus. Kecamatan Marga mencatat enam kasus, Pupuan empat kasus, sedangkan Selemadeg Barat menjadi wilayah dengan kasus paling sedikit, yakni dua kasus.

Meski jumlah kasus menurun, Diskes Tabanan belum mencatat adanya kematian akibat DBD sepanjang 2026 hingga Oktober.

Baca juga:  ASDP Perketat Data Penumpang Kapal dan Kendaraan

Arya menjelaskan, penyebaran DBD tidak hanya dipengaruhi kondisi cuaca, tetapi juga mobilitas penduduk dan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Karena itu, pencegahan harus dilakukan secara bersama-sama, mulai dari lingkungan rumah hingga tempat umum.

Salah satu langkah yang terus digencarkan adalah program satu rumah satu juru pemantau jentik (Jumantik). Melalui program ini, setiap keluarga diharapkan menunjuk salah satu anggota keluarga untuk memeriksa tempat penampungan air dan memastikan tidak ada jentik nyamuk.

“Kami mengajak setiap keluarga menjadikan pemeriksaan jentik sebagai kebiasaan. Jangan menunggu ada kasus DBD di lingkungan sekitar baru melakukan pemberantasan sarang nyamuk,” katanya.

Baca juga:  Tabanan Waspada DBD, Tiap Hari Ada Laporan Warga Diduga Terjangkit

Selain mengaktifkan Jumantik keluarga, Diskes Tabanan juga terus mengintensifkan promosi kesehatan, sosialisasi pencegahan DBD, dan gerakan PSN secara rutin setiap pekan.

Masyarakat diimbau menerapkan langkah 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penyimpanan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menampung air. Upaya tersebut perlu dilengkapi dengan langkah pencegahan lain sesuai kondisi lingkungan.

Diskes berharap keterlibatan aktif masyarakat dapat mempertahankan tren penurunan kasus sekaligus mencegah peningkatan penularan, terutama ketika kondisi cuaca kembali mendukung perkembangbiakan nyamuk.(Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN