Lontar- Sebuah lontar dari Lombok yang dibawa seorang tamu asal Belgia kini tersimpan di Museum Pustaka Lontar Desa Adat Dukuh Penaban, Kecamatan/Kabupaten Karangasem. (BP/Nan)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Sebuah lontar dari Lombok yang dibawa seorang tamu asal Belgia, kini tersimpan di Museum Pustaka Lontar Desa Adat Dukuh Penaban, Kecamatan Karangasem. Lontar tersebut menjadi koleksi menarik karena asal usul serta isi naskahnya sempat menjadi misteri karena sejumlah orang mengalami kesulitan membaca lontar tersebut.

Pengelola Museum Pustaka Lontar, I Nengah Suarya, Kamis (7/10), mengungkapkan, sebelum meninggalkan Bali dan kembali ke negaranya, tamu tersebut kemudian memilih menghibahkan satu cakep lontar itu ke Museum Lontar Dukuh Penaban. Ia menjelaskan, naskah tidak bisa di baca saat diterima.

Baca juga:  Biaya Hidup Makin Mahal, Standar di Bali Rp9 Juta Per Bulan

“Beberapa orang mencoba mengidentifikasi dan membaca tulisannya. Namun, karakter naskah yang cukup rumit membuat isi lontar belum berhasil diketahui. Isi naskah masih menjadi misteri karena sulit di baca. Sejumlah pihak sempat mencoba membaca naskah tersebut, namun menghadapi kendala karena karakter tulisannya dan kondisi lontar yang cukup rumit. Makanya untuk sementara kita namai lontar misterius,” ujarnya.

Suarya mengatakan, walaupun masih misterius, pihak museum tetap melakukan upaya penyelamatan terhadap lontar. Proses diawali dengan konservasi untuk menjaga kondisi fisik naskah, sebelum kemudian melibatkan tim digitalisasi dan klinik lontar untuk mengungkap isi tulisan di dalamnya.

Baca juga:  Logistik MotoGP Mandalika Tiba di Lombok

“Kami pengelola museum sempat mencoba menelusuri asal-usul lontar, dengan cara menghubungi sejumlah kenalan di Lombok. Namun, mereka juga belum mengetahui secara pasti mengenai isi naskah lontara yang kini menjadi bagian dari koleksi Museum. Dan sampai sekarang belum tahu isi lontar,”tegasnya.

Dia menjelaskan, dari koleksi yang ada, sebanyak 343 naskah telah berhasil teridentifikasi. Sementara itu, masih terdapat 78 naskah yang belum teridentifikasi dan membutuhkan penelusuran lebih lanjut. “Pelestarian tidak berhenti pada penyimpanan fisik. Museum juga melakukan pencatatan dan perawatan terhadap lontar, termasuk melalui katalog yang menyertai koleksi,” imbuhnya.

Baca juga:  Tinggi, Animo Anak-anak Menulis Lontar

Lebih lanjut dikatakannya, untuk proses digitalisasi seluruh koleksi masih menghadapi kendala keterbatasan sumber daya manusia. Tidak semua naskah dapat segera di digitalisasi karena membutuhkan tenaga yang memiliki kemampuan khusus dalam membaca, mengidentifikasi, merawat, dan mengolah naskah lontar. (Eka Parananda/balipost).

 

BAGIKAN