Sejumlah siswa dari SMP Miftahul Ulum Patas belajar menulis lontar.(BP/yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Upaya mengenalkan sekaligus melestarikan tradisi nyurat lontar kepada generasi muda terus dilakukan UPTD Gedong Kirtya Buleleng. Sebanyak 109 siswa SMP dari sembilan sekolah se-Kecamatan Gerokgak mengikuti program Belajar Bersama di Museum, Kamis (17/9).

Menariknya, kegiatan tersebut juga diikuti sejumlah siswa Muslim. Mereka mendapat materi dan kesempatan yang sama untuk belajar menulis menggunakan aksara Bali pada daun lontar. Keterlibatan siswa dari latar belakang berbeda ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan warisan budaya sebagai pengetahuan yang dapat dipelajari dan dilestarikan bersama.

Kepala UPTD Gedong Kirtya Buleleng, Dewa Ayu Putu Susilawati, mengatakan program Belajar Bersama di Museum memang menyasar siswa SMP. Berbeda dengan program Museum Masuk Sekolah yang lebih menyasar siswa SD, kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk mengenal tradisi nyurat lontar.

Baca juga:  300 Siswa di Kediri Tak Tertampung di Sekolah Negeri

“Sebelum praktik, instruktur memberikan rambu-rambu dan tata cara menulis. Anak-anak juga diberikan pengetahuan singkat terkait aksara. Setelah itu mereka langsung praktik nyurat lontar,” jelasnya.

Dalam praktiknya, siswa mengikuti contoh tulisan yang telah disiapkan. Mereka belajar menggunakan alat dan media lontar secara langsung sehingga tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga merasakan proses tradisi menulis lontar.

Menurut Susilawati, tradisi nyurat lontar penting dikenalkan kepada generasi muda di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat. Penggunaan gawai dan berbagai teknologi modern, menurutnya, tidak harus menjadi penghalang bagi keberlangsungan tradisi lokal.

Baca juga:  ORARI Daerah Bali Tegaskan Netralitas Dalam Pilkada

“Dunia Barat dan perkembangan teknologi tidak apa-apa kita terima. Hanya saja, tradisi-tradisi yang kita miliki sebaiknya jangan sampai punah,” ujarnya.

Ia juga menekankan, pelestarian warisan budaya tidak semestinya dibatasi oleh latar belakang agama maupun kelompok masyarakat tertentu. Karena itu, keterlibatan siswa Muslim dalam kegiatan tersebut dinilai menjadi bagian dari semangat bersama untuk menjaga warisan budaya.

“Untuk melestarikan warisan budaya tidak terpaku pada pengotak-kotakan pemerintah, agama dan lainnya. Seluruh masyarakat dari berbagai latar belakang harus sama-sama melindungi dan melestarikannya,” katanya.

Salah seorang guru pendamping, Widyawati dari SMP Miftahul Ulum Patas menyambut baik kegiatan tersebut. Ia mengatakan program ini memberikan pengalaman baru bagi siswa, khususnya dalam mengenal langsung proses menulis di atas daun lontar.

Baca juga:  Maybank Marathon 2025 Dipastikan Digelar di Bali

“Ini sangat bagus, kalau bisa dipertahankan. Selain memperkuat rasa persaudaraan antarsiswa, kegiatan ini juga menjadi wahana pelestarian budaya Bali,” katanya.

Sekolah tersebut mengikutsertakan delapan siswa dalam kegiatan. Para siswa juga disebut antusias karena sebelumnya belum pernah mengikuti program serupa maupun melakukan kunjungan pembelajaran ke museum.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat dilanjutkan dengan kuota peserta yang lebih banyak sehingga semakin banyak siswa memperoleh kesempatan mengenal warisan budaya Bali secara langsung.

“Usai mengikuti praktik nyurat lontar, para peserta juga diajak mengunjungi museum untuk melihat koleksi dan mengenal lebih jauh berbagai warisan pengetahuan yang tersimpan di Gedong Kirtya,” tutupnya. (Yuda/balipost)

 

BAGIKAN