Wakil Ketua PHRI Bali, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya. (BP/wid)

DENPASAR, BALIPOST.com – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali mendorong evaluasi terhadap arah pembangunan pariwisata Bali. Evaluasi dinilai penting dilakukan terlebih jelang 100 tahun perjalanan pariwisata Bali yang akan diperingati pada 2027 mendatang.

Wakil Ketua PHRI Bali, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, mengatakan momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dapat menjadi kesempatan untuk melihat kembali perkembangan pariwisata Bali, termasuk arah pengembangannya ke depan.

Menurutnya, evaluasi tersebut perlu diselaraskan dengan visi Pemerintah Provinsi Bali untuk membangun pariwisata berbasis budaya, berkualitas, dan bermartabat. “Catatan kita, kita mengevaluasi dari segi pariwisata. Tahun 2027 ini adalah 100 tahun hari pariwisata khususnya di Bali. Jadi, ini harus betul kita evaluasi bagaimana ke depannya sesuai dengan visi Gubernur untuk menjadikan pariwisata Bali berbasis budaya, berkualitas, dan bermartabat,” ujar Rai seusai mengikuti Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Niti Mandala, Denpasar, Senin (17/8).

Baca juga:  Bali Belum Terdampak Efisiensi Anggaran

Rai Suryawijaya menegaskan, evaluasi tersebut perlu dilakukan secara serius dengan pengawasan yang ketat serta penegakan aturan. Sosialisasi juga dinilai penting agar kebijakan dan aturan yang diterapkan tidak menimbulkan perbedaan pemahaman di lapangan.

Selain arah pembangunan pariwisata, PHRI Bali juga menyoroti kesejahteraan pekerja di sektor perhotelan dan restoran. Rai mengatakan, ukuran kesejahteraan pekerja tidak semata-mata dilihat dari besaran upah minimum, tetapi juga dari total pendapatan yang diterima pekerja.

Baca juga:  Didatangi KPK, Banyuwangi Kurangi Proyek PL

Ia menyebut pekerja pariwisata di Bali selain memperoleh Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), juga mendapatkan pendapatan dari service charge. Bahkan dia menyebutkan, nilai servis yang didapat bisa lebih besar dari gaji pokoknya. Besarannya, kata dia, bergantung pada kondisi usaha masing-masing hotel, terutama tingkat hunian dan harga kamar.

“Yang paling penting itu berapa take-home pay yang mereka dapatkan. Jadi, berapa yang mereka bawa pulang, itu yang paling penting,” ujarnya.

Baca juga:  Kebijakan Berpihak Lingkungan

Di sisi lain, PHRI Bali mengingatkan pentingnya menjaga keamanan seiring kondisi kunjungan wisatawan yang dinilai masih bagus. Potensi gangguan keamanan dan kriminalitas perlu diantisipasi agar tidak berdampak terhadap citra pariwisata Bali. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN