Kondisi di dalam Pelabuhan Gilimanuk, Senin (28/9) sudah lengang setelah sempat terjadi antrian panjang pada Sabtu dan Minggu. (BP/Olo)

NEGARA, BALIPOST.com – Situasi penyeberangan Jawa-Bali yang tidak tentu dengan kemacetan parah sangat berdampak pada transportasi baik orang dan logistik dari dan ke Pulau Bali. Salah satu yang paling terpukul bisnis transportasi rute Bali-Jawa, antar kota antar provinsi (AKAP).

Ketidakpastian jadwal dan waktu penyeberangan merugikan, baik pengusaha armada bus AKAP maupun para penumpang. Bahkan, beberapa bus AKAP mengurangi armada hingga menghentikan rute sementara Jawa-Bali.

I Putu Gede Imam Masion, salah seorang pengusaha transportasi Bus AKAP PO Mansion, mengakui usaha transportasi darat khususnya bus AKAP sangat terdampak dengan kondisi penyeberangan Ketapang-Gilimanuk yang tidak tentu.

“Sangat merugikan bus maupun penumpang juga, karena sangat lama dan tidak pasti, kasihan sopir maupun penumpang,” terangnya.

Bagi kru bus, dampak kelelahan di jalan menunggu antrean. Begitu juga penumpang yang tidak ada kepastian waktu kedatangan maupun keberangkatan.

Untuk mengantisipasi itu, pihaknya menerapkan jadwal keberangkatan dua hari sekali dari sebelumnya tiap hari. Begitu juga jumlah armada yang diberangkatkan dikurangi. Dari biasanya 3-4 armada tiap harinya, kini berkurang sekitar 2-3 bus.

Pihaknya berharap ada solusi konkrit agar kondisi ini tidak terus menerus terjadi. Apalagi jalur transportasi ke Bali merupakan tujuan wisata baik domestik maupun mancanegara yang sangat penting.

“Kami berharap disamping ada perbaikan dermaga ini, pemerintah ada solusi untuk transportasi. Kasihan penumpang maupun kru bus,” ujar pengusaha asal Bali ini.

Selain lama menunggu sebelum masuk kapal, juga lama menunggu di dalam kapal (sailing time).

Baca juga:  Transportasi BTS akan Dikenakan Tarif, Segini Usulan Harga di Denpasar

Di sisi lain, dengan ketidakpastian penyeberangan ini, banyak penyintas yang memilih alternatif transportasi kereta api dari Banyuwangi ke kota atau kabupaten lain di Pulau Jawa.

Hanya saja, sedikit kerepotan ketika mencari kendaraan dari Denpasar ke Gilimanuk dan biaya lebih mahal. Bintoro (35), penumpang asal Yogyakarta, sengaja memilih kereta karena ketidakpastian jadwal bus malam yang biasanya ditumpanginya.

“Saya biasa dua kali sebulan PP dari Yogyakarta ke Denpasar, kalau naik bus sudah tidak tentu jadwalnya. Kadang malam baru datang, karena terkendala di pelabuhan. Dulu tidak sampai seperti ini terus menerus macet,” terangnya.

Bintoro kini memilih kereta api yang langsung turun Banyuwangi dan melanjutkan perjalanan menyeberang atau mencari kendaraan lain menuju Denpasar karena dikejar waktu.

Antrean di Gilimanuk dan Ketapang sejak dua bulan belakangan ini masih sering terjadi. Teranyar pada akhir pekan lalu, Sabtu (26/9) antrean cukup panjang dan perlu berjam-jam untuk masuk ke kapal.

Hingga terjadi demo sopir-sopir logistik di Ketapang karena kondisi macet tersebut. Di Gilimanuk, antrean kendaraan khususnya roda empat hingga Minggu (27/9) siang mengular hingga masuk kawasan hutan Cekik, sekitar 3,5 kilometer dari Pelabuhan Gilimanuk.

Meskipun pada Senin (28/9) kondisi pelabuhan sudah lengang, namun masih ada kekhawatiran dari sejumlah pihak dengan kondisi ini.

Kapolsek Kawasan Pelabuhan Gilimanuk AKP Gusti Kade Alit Murdiasa mengatakan antrean kendaraan yang sempat terjadi hingga keluar pelabuhan sudah menyusut dan tidak terjadi lagi Senin siang.

Baca juga:  Lakalantas Tunggal di Jalur Denpasar-Gilimanuk, Sejumlah Penumpang Bus Luka-luka

“Siang ini antrean di jalur utama Denpasar-Gilimanuk kini sudah nihil. Kendaraan dapat melintas dengan normal tanpa hambatan,” terangnya.

ASDP berupaya mempercepat pemulihan operasional layanan penyeberangan lintasan Ketapang–Gilimanuk menyusul dinamika layanan yang terjadi pada Sabtu (26/9), termasuk aksi penyampaian aspirasi sejumlah pengemudi truk di area pintu keluar Dermaga LCM Pelabuhan Ketapang.

Direktur Utama ASDP Heru Widodo mengatakan unsur terkait berfokus pada percepatan pemulihan layanan dan penguraian antrian, dengan tetap menempatkan keselamatan pelayaran sebagai prioritas utama.

“Setelah tercapainya kesepakatan bersama, fokus kami adalah mempercepat normalisasi operasional dan mengurai antrian secara bertahap. Kapasitas kapal yang tersedia terus kami optimalkan, termasuk melalui percepatan siklus pelayanan kapal serta pengaturan muatan sesuai karakteristik dan kapasitas masing-masing kapal,” ujar Heru.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengoptimalkan distribusi kendaraan berdasarkan kapasitas dan karakteristik kapal yang beroperasi. Kendaraan dengan muatan di atas 30 ton diarahkan untuk dilayani melalui kapal-kapal LCM, dengan optimalisasi muatan sesuai kapasitas kapal, sementara kendaraan dengan muatan di bawah 30 ton diarahkan melalui kapal MB 1, 2, 3, dan 4.

Pengaturan tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh kapasitas kapal dan fasilitas yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal, sehingga distribusi kendaraan berlangsung lebih efektif dan tidak terkonsentrasi pada jenis kapal tertentu.

Baca juga:  Bupati Dana Targetkan Perbaikan Jalan Tuntas di 2025

General Manager ASDP Cabang Ketapang Media Syahrianto mengatakan ASDP bersama seluruh pemangku kepentingan terkait juga terus mempercepat siklus pelayanan kapal, mulai dari proses sandar, pemuatan hingga keberangkatan, dengan tetap memperhatikan kondisi operasional dan standar keselamatan.

“Kuncinya adalah memastikan seluruh kapasitas yang tersedia dapat digunakan secara optimal. Pengaturan muatan dilakukan sesuai kapasitas kapal, sementara proses pelayanan kapal terus dipercepat melalui koordinasi yang semakin solid antara petugas, regulator, dan operator. Dengan langkah tersebut, antrian diharapkan dapat terus berkurang secara bertahap,” jelas Media.

ASDP juga terus berkoordinasi dengan asosiasi pelayaran untuk mengoptimalkan jumlah trip dan kapasitas angkut kapal. Sementara itu, asosiasi pengemudi turut berkomitmen mendukung kelancaran operasional dengan mengikuti arahan petugas terkait proses pemuatan kapal dan ketentuan operasional di kawasan pelabuhan.

Pada Minggu (27/9) ASDP mengoperasikan 25 kapal pada lintasan Ketapang–Gilimanuk termasuk juga optimalisasi jumlah trip dengan mempertimbangkan kondisi operasional, kapasitas kapal, pengaturan muatan, serta aspek keselamatan pelayaran.

“Kami memahami bahwa kondisi kepadatan ini berdampak langsung kepada pengguna jasa, khususnya angkutan logistik. Karena itu, percepatan pemulihan menjadi prioritas kami. Seluruh unsur di lapangan terus bekerja untuk memaksimalkan trip, mempercepat siklus pelayanan kapal, dan mengurai antrean secara bertahap. Kami menghimbau pengguna jasa tetap mengikuti arahan petugas agar proses pemulihan dapat berlangsung dengan tertib dan optimal,” tambah Media. (Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN