
DENPASAR, BALIPOST.com – Saat penutupan penerbangan di sejumlah bandara, penumpang pesawat beralih ke jalur darat dan laut. Menyikapi kondisi tersebut, Ditpolairud Polda Bali bersama instansi terkait memperketat pengamanan di Pelabuhan Padangbai dan Gilimanuk karena volumenya melonjak.
Selain itu, petugas mengatur arus dan antrean agar bongkar muat lancar serta tidak chaos. “Direktorat Kepolisian Air dan Udara Polda Bali memiliki tugas utama yakni mengawasi, mengamankan, dan menegakkan hukum di wilayah perairan, pantai, serta pelabuhan,” tegas Kasubdit Gakkum Ditpolairud Polda Bali AKBP Nanang Prihasmoko, Rabu (9/9).
Sedangkan peran umum Ditpolairud Polda Bali terkait pengamanan pelabuhan, AKBP Nanang menjelaskan melaksanakan kegiatan rutin di lapangan bersama Satpolairud polres jajaran di pelabuhan, seperti Padangbai, Gilimanuk, dan Sampalan Nusa Penida. Kegiatan ini meliputi memastikan keamanan dan kelancaran operasional pelabuhan. Cek kelengkapan penumpang, barang dan kendaraan keluar-masuk untuk cegah barang ilegal.
Memantau aktivitas di sekitar dermaga, pintu masuk-keluar, kantong parkir, dan proses bongkar muat kapal ferry yang rawan. Mencegah tindak kriminal dan kecelakaan yang merugikan masyarakat/pengguna jasa pelabuhan.
“Dalam melakukan tugas tersebut kami bersinergi dengan Polsek Kawasan Pelabuhan, KSOP, Bakamla, TNI, dan instansi terkait lain agar pengawasan maksimal. Kami berupaya memberikan rasa aman kepada pengguna jasa transportasi laut. Intinya Ditpolairud jadi garda depan Polri di pintu masuk laut Bali,” ujarnya.
Sedangkan tugas pokok saat gelombang tinggi atau cuaca ekstrem, Ditpolairud melakukan pemantauan, pengawasan dan penutupan penyeberangan. Contohnya di Dermaga Padangbai, personel turun langsung memantau saat layanan fast boat ditutup sementara karena gelombang tinggi, hujan deras, angin kencang.
Memastikan tidak ada aktivitas penyeberangan yang membahayakan keselamatan pelayaran. Mantan Kapolsek Denpasar Selatan ini mengimbau nelayan dan operator boat agar mengutamakan keselamatan, pakai life jacket, memperhatikan alat navigasi, dan waspada tanda-tanda cuaca buruk. Pihaknya mengajak masyarakat pesisir bersama-sama menjaga Kamtibmas dan waspada potensi kecelakaan laut akibat gelombang tinggi. Tujuannya mencegah kecelakaan laut dan memastikan tidak ada korban.
Ditpolairud menyiagakan kapal dan personel, serta melakukan patroli di pelabuhan penyeberangan seperti Gilimanuk, Padangbai, dan lainnya untuk antisipasi masuknya orang dari luar Bali. Pemeriksaan ketat identitas dan barang untuk antisipasi peredaran barang ilegal saat mobilitas tinggi.
Koordinasi lintas instansi intensif dilakukan, yakni dengan TNI, Bakamla, dan satuan wilayah setempat untuk kelancaran arus penumpang. Saat siaga alutsus, pihaknya bisa mengerahkan kapal patroli dan helikopter untuk backup pengamanan serta situasi darurat.
“Saat gelombang tinggi, keputusan buka-tutup penyeberangan tetap di tangan KSOP/Ditjen Perhubungan Laut berdasarkan surat resmi. Ditpolairud bertugas mengawal, mengamankan, dan memastikan aturan itu ditaati demi keselamatan,” tutupnya. (Kerta Negara/balipost)










