Antrean kendaraan masuk ke kapal di dalam pelabuhan. Sejak awal pekan, arus masuk ke Bali mengalami kemacetan di Pelabuhan Ketapang. (BP/istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – Antrean panjang kendaraan termasuk kendaraan logistik yang hendak masuk ke Pulau Bali mengular hingga 12 kilometer di jalur menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Upaya mengurai penumpukan di lintasan penyeberangan Jawa-Bali tersebut, armada kapal berkapasitas jumbo kini dimaksimalkan.

Sementara, kondisi lebih lengang terlihat di Pelabuhan Gilimanuk. Meski sempat mengantre, arus penyeberangan keluar Bali sejak awal pekan lalu tidak sepadat jalur masuk ke Bali.

Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, mengatakan pihaknya bersama para pemangku kepentingan terus berupaya mempercepat pergerakan arus lalu lintas khususnya masuk ke Bali. Langkah taktis yang diambil saat ini adalah menerjunkan 25 kapal berukuran besar, ditambah dengan tiga kapal perbantuan.

Baca juga:  Dari 25.000 Ibu Hamil di Bali, Hanya Segini yang Mengandung Anak Nyoman dan Ketut

“Pengerahan armada berkapasitas besar dan kapal bantuan ini adalah upaya konkret kami di tengah dinamika operasional. Evaluasi dan perbaikan akan terus kami lakukan agar arus penyeberangan kembali normal dan optimal,” tegas Heru.

Kemacetan panjang ini tidak terlepas imbas dari proyek pembaruan infrastruktur vital di kedua pelabuhan. Saat ini, ASDP tengah melakukan peningkatan kapasitas Dermaga 2 Pelabuhan Gilimanuk dan dermaga ponton Pelabuhan Ketapang. Kedua fasilitas ini sedang di-upgrade menjadi dermaga movable bridge (MB) yang dirancang mampu menahan beban hingga 50 ton. Sehingga juga bisa menampung kendaraan logistik tonase besar sebagai alternatif dermaga LCM.

Baca juga:  Gubernur Koster Cek Pelabuhan Gilimanuk

Selama masa pengerjaan, kapasitas sandar pelabuhan tidak dapat beroperasi 100 persen. Padahal, dalam kondisi normal, jalur Ketapang-Gilimanuk biasanya mampu melayani hingga 28 kapal secara bersamaan.

Guna menyiasati keterbatasan dermaga, General Manager ASDP Cabang Ketapang, Media Syahrianto, menerapkan rekayasa operasional berupa skema Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB). Pola percepatan ini difokuskan pada tiga kapal bantuan guna memangkas waktu sandar.

“KMP Atayana dan KMP Portlink VII (kapasitas besar) kami instruksikan memakai pola TBB di Pelabuhan Gilimanuk, sementara KMP Liputan XII difokuskan di Dermaga LCM. Begitu merapat, langsung bongkar muat dan berangkat kembali. Ini sangat membantu mempercepat penguraian kendaraan secara bertahap,” papar Media.

Baca juga:  Longsor di Asahduren, Arus Lalin di Pekutatan-Pupuan Buka Tutup

Terkait antrean yang memakan waktu berjam-jam, ASDP menjamin bahwa tiket pengguna jasa tidak akan hangus akibat keterlambatan. Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan tidak perlu khawatir jika jadwal masuk pelabuhannya meleset dari tiket yang sudah dipesan.

“Kondisi ini masuk dalam kategori force majeure. Kami pastikan tiket tetap berlaku dan penumpang pasti akan dilayani untuk menyeberang. Kami memohon pengertian pengguna jasa agar menyesuaikan waktu perjalanan dan selalu mematuhi arahan petugas di lapangan,” pungkasnya. (Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN