Wayan Sution menunjukkan lukisan dari limbah kayu jati. (BP/bit)

SINGASANA, BALIPOST.com – Limbah kayu jati dari industri mebel disulap menjadi karya seni bernilai ekonomi di tangan seniman asal Banjar Puseh, Desa Kediri, Kecamatan Kediri, Tabanan, I Wayan Sution (56). Melalui kreativitasnya, potongan kayu yang semula dianggap tidak layak digunakan tersebut diolah menjadi media lukis bercorak pewayangan yang dipamerkan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VII, Jumat (28/8), hingga Minggu (30/8).

Bagi Sution, karakter alami kayu jati justru menjadi daya tarik utama karyanya. Serat, bentuk, hingga lubang pada kayu yang biasanya menjadi alasan bahan tersebut ditolak dalam pembuatan mebel, dipertahankan sebagai bagian dari karya seni. Kondisi tersebut yang menurutnya dapat menghasilkan lukisan dengan karakter berbeda dan tidak dapat dibuat persis sama.

“Kayu yang bolong di tengah biasanya dibuang dan tidak dipakai pabrik mebel. Tetapi setelah dibuat lukisan, justru bagian itu membuat pembeli tertarik,” ujar Sution.

Ditemui di standnya, ia mengaku mulai mengembangkan lukisan pada media kayu jati sebagai inovasi dari aktivitas melukis di atas kanvas yang telah ditekuninya sejak 1992. Tingginya biaya kanvas dan kebutuhan bingkai membuat harga lukisan menjadi lebih mahal. Kondisi ini yang membuat dirinya mencari media alternatif yang lebih sederhana dan terjangkau.

Baca juga:  Diduga Tak Kelola Limbah Secara Benar, Ini Tanggapan Resto Apung

Kayu jati dipilih karena memiliki serat alami yang dapat menjadi latar sekaligus memperkuat karakter lukisan. Menurut Sution, hasil lukisan pada kayu juga memberikan kesan lebih klasik dan tidak monoton seperti media yang sepenuhnya menggunakan cat.

“Kayu jati ini tidak saya jadikan sekadar background. Serat kayunya menjadi bagian dari lukisan. Setiap kayu juga memiliki karakter yang berbeda,” katanya.

Untuk menghasilkan satu karya, Sution membutuhkan waktu hanya sehari, mulai dari proses penyerutan hingga tahap melukis setelah media kayu siap digunakan. Sebagian besar karyanya mengangkat tema tradisi dan pewayangan Bali.

Pemilihan tema tersebut disesuaikan dengan karakter kayu yang menurutnya mampu memberikan kesan klasik sekaligus mempertahankan nilai tradisi. Ia memperkirakan karya yang dibuat dengan media kayu jati dapat bertahan hingga puluhan tahun apabila dirawat dengan baik.

Baca juga:  Pelaksanaan Piala Dunia U20, Indonesia Masih Berupaya Lobi FIFA

Harga lukisan kayu jati yang dipamerkan di Festival Tanah Lot berkisar Rp250 ribu hingga Rp300 ribu. Namun, Sution tidak menetapkan harga secara kaku. Harga dapat disesuaikan dengan tingkat kerumitan desain maupun pembicaraan dengan calon pembeli. “Kalau pembeli menghargai hasil seni lukis saya dan nyambung mengobrol soal seni, bisa saya berikan harga lebih murah,” ujarnya.

Untuk pesanan khusus atau custom, harga disesuaikan dengan gambar dan tingkat kesulitan yang diminta konsumen. Bahan baku kayu diperolehnya dari perusahaan mebel di sekitar tempat tinggalnya. Kayu reject tersebut terkadang dibeli dengan harga jauh lebih rendah dibandingkan kayu yang digunakan untuk produksi mebel.

Dalam sebulan, Sution rata-rata mampu menjual sekitar 10 lukisan kayu jati. Namun, produksi tidak dilakukan secara rutin dalam jumlah besar. Ia lebih banyak membuat karya ketika mengikuti pameran dan festival atau ketika mendapat pesanan.

Baca juga:  Wagub Cok Ace: Pariwisata dan Kearifan Lokal Memiliki Hubungan Kuat

Keterlibatannya dalam berbagai pameran juga bagian dari strategi Sution membangun branding. Menurutnya, memasarkan karya seni tidak mudah sehingga festival menjadi ruang penting untuk memperkenalkan karya kepada masyarakat, termasuk wisatawan.

Selain lukisan kayu jati, Sution tetap mengerjakan lukisan di atas kanvas dengan harga mulai Rp3 juta. Ia juga membuat kerajinan ogoh-ogoh mini yang permintaannya biasanya meningkat menjelang hari suci Nyepi. Sejumlah kerajinan kayu seperti okokan juga diminati wisatawan. “Dua hari festival okokan, kayu mini banyak dicari wisatawan. Kalau lukisan kayu ada juga biasanya diletakkan di vila pribadi mereka,” ucapnya

Sution berharap karya berbasis kayu jati tersebut tidak hanya dikenal di Bali, tetapi dapat menembus pasar luar Bali hingga membuka peluang ekspor. (Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN