Perumda MGS Badung rancang ekosistem pengolahan kotoran hewan di Pasar Beringkit untuk hilangkan bau dan ciptakan nilai ekonomi dari limbah. (BP/istimewa)

 

MANGUPURA, BALIPOST.com – Tumpukan kotoran hewan yang selama ini identik dengan bau menyengat di Pasar Hewan Beringkit kini mulai ditata ulang. Bukan sekadar dibersihkan, tapi diolah menjadi potensi ekonomi baru.

Salah satu fokus utamanya adalah membangun ekosistem pengolahan sampah, terutama limbah kotoran hewan yang selama ini menjadi persoalan utama di Pasar Hewan Beringkit, Mengwi.

Langkah awal dilakukan dengan menghilangkan kesan kotor dan bau akibat kotoran hewan yang berserakan. Tidak hanya soal kebersihan, Perumda Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana (MGS) Kabupaten Badung juga melihat limbah tersebut sebagai peluang untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

Direktur Utama Perumda MGS Kabupaten Badung, Kompiang Gede Pasek Wedha, mengungkapkan pihaknya tengah merancang regulasi terkait pengolahan sampah di seluruh pasar. “Kami masih menggojlog regulasinya. Kami ingin kondisi pasar bersih aman dan nyaman, dengan begitu kita bisa bertransaksi di kabupaten Badung,” ungkap Kompiang Gede Pasek Wedha, Kamis (18/6).

Baca juga:  Langgar Izin Tinggal, WNA Turki Dideportasi

Ia mengakui, dari sembilan pasar yang dikelola, produksi sampah mencapai sekitar 18 ton per hari. Kondisi ini membuat Perumda harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk pengangkutan sampah, yakni mencapai Rp50-56 juta. Di sisi lain, kotoran hewan yang selama ini belum terolah dinilai memiliki potensi besar jika dikelola secara tepat.

“Kotoran hewan tidak terolah, saya memiliki skam banyak. Harapan saya bisa diolah, Bupati Badung berharap kita memiliki ekosistem. Kita salurkan ke petani dalam bentuk gabah, atau hasil panennya,” jelasnya.

Baca juga:  Limbah "Styrofoam" Kembali Cemari Pantai Candidasa

Ke depan, konsep pengelolaan sampah akan diarahkan pada sistem ekonomi sirkular. Bahkan, terdapat wacana bahwa pengambilan sampah tidak lagi gratis, melainkan terintegrasi dengan pembelian produk hasil olahan sampah. “Kedepan kalau sampahnya mau diambil tapi harus harus membeli produk,” tambahnya.

Selain limbah kotoran hewan, Perumda MGS juga mengkaji pengolahan sampah organik dan anorganik secara menyeluruh. Langkah ini diharapkan mampu menekan beban biaya operasional sekaligus menciptakan nilai tambah dari sampah.

“Mudah-mudahan dengan begitu, kita bisa menghasilkan suatu produk yang bisa menaikkan kualitas atau nilai jual dari sampah tersebut,” katanya.

Baca juga:  Jangkau Basis Penggemar di Indonesia, BRI Luncurkan BRI Debit FC Barcelona dalam BRI Barça Week 2026

Tak hanya berdampak pada lingkungan, penataan ini juga ditargetkan meningkatkan kenyamanan dan keamanan pasar. Pasek Wedha menilai, kondisi pasar yang bersih akan mendorong peningkatan aktivitas jual beli.

“Setelah aman, sama-sama memiliki dan menjaga sesama pedagang maupun kita kondisi pasar,” kata Pasek Wedha.

Ia menegaskan, kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan agar program ini berjalan optimal. “Secara konsep terbilang gampang, tapi penerapan mungkin susah. Yang jelas saya tidak bisa bekerja sendiri, tapi juga perlu dukungan semua pihak, termasuk media agar semua berjalan lancar, karena bagaimanapun fokus bisnis awal kita memang pasar,” pungkasnya. (Parwata/balipost)

BAGIKAN