El Nino berdampak pada kekeringan dan masyarakat krisis air bersih sehingga harus dibantu distribusi air bersih oleh BPBD. (BP/istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – Musim kemarau yang berkepanjangan mulai berdampak terhadap ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Jembrana. Setelah Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana, dan Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, kini giliran warga Desa Yehembang Kauh, Kecamatan Mendoyo, yang membutuhkan pasokan air bersih.

Kondisi tersebut mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana meningkatkan distribusi air sekaligus memperluas penempatan tandon di wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan sumber air.

Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra, Selasa (18/8), mengatakan, pihaknya telah menyalurkan 10 ribu liter air bersih ke dua banjar di Desa Yehembang Kauh. Bantuan tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang mulai terdampak kekeringan.

Baca juga:  Puluhan Calon Jamaah Haji Karangasem Siap Berangkat ke Tanah Suci Mekah

“Kami sediakan dua tandon, masing-masing menampung 5.000 liter. Di Banjar Sekar Kejula untuk kebutuhan 241 keluarga. Sedangkan di Banjar Kedisan 5.000 liter untuk 134 keluarga, sekaligus mengisi bak di pura,” jelasnya.

Agus mengatakan, BPBD Jembrana saat ini telah mendistribusikan dan memasang 14 tandon di sejumlah lokasi yang dinilai strategis. Penempatan tandon dilakukan agar masyarakat lebih mudah memperoleh air bersih tanpa harus menunggu distribusi langsung ke rumah-rumah.

Baca juga:  Bakar Sampah, Lima ''Palinggih'' di Pura Puseh Banyubiru Terbakar

Pengisian tandon dilakukan secara berkala menggunakan armada truk tangki BPBD Jembrana. Dalam pelaksanaannya, distribusi air juga mendapat dukungan dari Palang Merah Indonesia (PMI) dan pemadam kebakaran (Damkar).

“Dari total 16 tandon yang tersedia, satu unit masih disiapkan sebagai cadangan. Satu tandon lainnya mengalami kerusakan karena bocor,” ungkap Agus.

Meski demikian, Agus menegaskan tidak semua wilayah yang mengalami kekeringan akan dipasangi tandon. Warga di lokasi tertentu dapat menyediakan tempat penampungan air secara mandiri yang selanjutnya akan diisi melalui armada tangki.

Baca juga:  Krisis Air, Tidak Cukup dengan Ritual

“Warga bisa menyediakan tempat penampungan sendiri jika tidak mendapat tandon. Nanti air bersih kami distribusikan menggunakan truk tangki,” ujarnya.

Menurut Agus, penempatan tandon dan distribusi air bersih dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan tingkat kebutuhan di masing-masing wilayah. Langkah tersebut akan terus dilakukan mengingat musim kemarau masih berlangsung dan kebutuhan air bersih masyarakat berpotensi meningkat.

BPBD Jembrana juga mengimbau masyarakat di wilayah yang mulai mengalami kekurangan air agar segera berkoordinasi sehingga kebutuhan air bersih dapat ditangani sebelum kondisi semakin parah. (Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN