
DENPASAR, BALIPOST.com – Provinsi Bali memasuki periode puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Kondisi tersebut meningkatkan potensi terjadinya kekeringan, krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga kebakaran gedung dan permukiman.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Provinsi Bali, I Gede Teja, mengatakan Bali mulai memasuki musim kemarau pada Dasarian II April 2026. Berdasarkan perkembangan kondisi dan prediksi cuaca, Agustus 2026 diperkirakan menjadi puncak musim kemarau di Bali.
“Bali mulai memasuki musim kemarau pada Dasarian II April 2026 dan Agustus diprediksi menjadi puncak musim kemarau,” ujar Teja dalam pemaparan kondisi kebencanaan Bali periode 11 April hingga 11 Agustus 2026, Rabu (12/8).
Menurut Teja, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena analisis dan prediksi ENSO menunjukkan fenomena El Nino pada 2026 diprediksi mencapai level sangat kuat. Kemarau yang berlangsung lebih panjang dan kering berpotensi meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air serta memicu berbagai kejadian kebakaran.
BPBD Bali mencatat kekeringan telah terjadi di sejumlah wilayah, terutama Kabupaten Buleleng, Jembrana, dan Karangasem. Dalam periode 11 April hingga 11 Agustus 2026, tercatat sebanyak 529 kepala keluarga (KK) terdampak dalam sebaran kejadian kekeringan yang terdokumentasi.
Di Buleleng, kekeringan tercatat terjadi di Desa Sinabun. Sementara di Jembrana, kejadian tercatat di Kelurahan Pendem, Desa Asahduren, dan Desa Manistutu. Di Karangasem, wilayah yang terdampak antara lain Desa Baturinggit.
Kondisi di lapangan ditandai dengan menurunnya debit air Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), penurunan debit sejumlah sumber air, berkurangnya debit air gunung, hingga mengeringnya sumur bor.
Penurunan debit sumber air tersebut menjadi perhatian karena masyarakat di sejumlah wilayah masih mengandalkan sumber air lokal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Untuk mengantisipasi krisis air bersih, Gede Teja mengungkapkan bahwa BPBD bersama pemerintah daerah dan unsur terkait telah melakukan pendistribusian air kepada masyarakat terdampak.
Di Buleleng, air yang telah didistribusikan mencapai 158.000 liter. Kemudian Jembrana sebanyak 137.000 liter dan Karangasem sebanyak 10.000 liter. Dengan demikian, total air bersih yang telah didistribusikan mencapai 305.000 liter.
Selain distribusi air, langkah antisipasi dilakukan dengan memantau wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air serta mengidentifikasi kebutuhan masyarakat.
“Kesiapan distribusi air bersih terus diperkuat, termasuk sarana pendukung sumber dan jaringan air seperti pompa dan pipanisasi,” ungkapnya.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan penanganan dapat dilakukan lebih cepat apabila terjadi peningkatan kebutuhan air bersih di tengah puncak musim kemarau.
Selain kekeringan, lanjut Teja peningkatan suhu dan kondisi lahan yang kering juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan.
Luas kawasan hutan di Bali tercatat mencapai 131.171,47 hektare. Dari pemetaan potensi yang telah dilakukan, terdapat potensi kebakaran hutan dan lahan pada area sekitar 158,53 hektare.
Sejumlah kejadian kebakaran telah tercatat selama periode pemantauan. Di Nusa Penida, kebakaran melanda sekitar 15 hektare dan api telah berhasil dipadamkan. Di Karangasem, kebakaran terjadi pada sekitar 2 hektare lahan pertanian.
Sementara di Kecamatan Gerokgak, Buleleng, tercatat kebakaran dengan luasan mencapai 91,52 hektare. Di Jembrana, kebakaran lahan kosong di Desa Pekutatan tercatat sekitar 1,5 hektare.
Menghadapi kondisi tersebut, pemantauan kawasan hutan dan lahan terus dilakukan. BPBD juga meningkatkan pemantauan terhadap aktivitas yang berpotensi menjadi sumber api serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemunculan titik api.
“Respons sedini mungkin menjadi bagian penting dari mitigasi untuk mencegah kebakaran meluas dan menimbulkan dampak lebih besar,” pesannya.
Teja mengatakan bahwa risiko kebakaran selama musim kemarau tidak hanya menyasar kawasan hutan dan lahan. Kebakaran gedung, permukiman, serta tempat pengolahan sampah juga menjadi perhatian.
Beberapa lokasi yang masuk dalam pemantauan, antara lain TPST 3R Culik, Kecamatan Abang, Karangasem, yang terdampak kebakaran sekitar 10 are. Selain itu, TPST 3R Tejakula di Kabupaten Buleleng juga menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian dalam pemantauan risiko kebakaran.
Kondisi lingkungan yang kering membuat material mudah terbakar sehingga potensi kebakaran dapat meningkat apabila tidak diantisipasi sejak awal.
Karena itu, pihaknya mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan secara sembarangan. Puntung rokok juga diminta tidak dibuang di kawasan hutan, semak, maupun lahan kering.
Menghadapi puncak musim kemarau, Teja mengatakan bahwa BPBD Bali melakukan pemantauan kondisi kemarau dan perkembangan kejadian secara berkala. Wilayah rawan kekeringan dan krisis air juga terus dipantau untuk mengetahui kebutuhan masyarakat secara lebih cepat.
Kesiapan distribusi air bersih bagi masyarakat terdampak menjadi salah satu prioritas. Di sisi lain, pemantauan dan pengendalian risiko kebakaran dilakukan terhadap kawasan hutan, lahan, tempat pengolahan sampah, gedung, hingga permukiman.
Sektor pertanian juga mendapat perhatian karena kekurangan air dapat berdampak terhadap produktivitas dan keberlangsungan kegiatan pertanian.
Laporan kondisi dan perkembangan di lapangan diperbarui secara berkala sebagai dasar bagi pemerintah dan instansi terkait dalam menentukan langkah penanganan.
Teja mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak, khususnya di wilayah yang mulai mengalami penurunan ketersediaan air. Masyarakat yang tinggal di kawasan rawan kekeringan juga diminta menyiapkan cadangan air secukupnya.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api. Informasi cuaca dan peringatan dini juga perlu diikuti untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi perubahan kondisi di lapangan.
Apabila terjadi gangguan terhadap kebutuhan dasar, masyarakat diminta segera melapor kepada perangkat desa atau kelurahan maupun BPBD setempat agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. (Ketut Winata/balipost)










