Kepala BPBD Tabanan I Nyoman Sri Nadha Giri. (BP/bit)

SINGASANA, BALIPOST.com – Memasuki musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tabanan mulai memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air. Hasil mitigasi sementara menunjukkan wilayah selatan Kecamatan Selemadeg Timur (Seltim) dan Kediri menjadi daerah yang perlu mendapat perhatian lebih. Pemetaan dilakukan untuk memastikan kebutuhan penanganan di lapangan dapat segera diidentifikasi dan dilaporkan. Dengan demikian, bantuan dari pemerintah pusat dapat diupayakan sebelum kondisi kekeringan semakin meluas.

Kepala BPBD Tabanan I Nyoman Sri Nadha Giri mengatakan pendataan masih dilakukan bersama BPBD Provinsi Bali. Koordinasi dilakukan secara daring untuk memantau perkembangan potensi bencana sekaligus menghimpun kebutuhan masing-masing daerah.

“Yang berpotensi mengalami kekeringan masih kami data. Kalau ada potensi, kami catat dan laporkan kebutuhannya, apakah perlu mesin, pompa atau penanganan lainnya,” ujarnya disela kegiatan Rapat Paripurna di Gedung DPRD Tabanan, Jumat (14/8).

Baca juga:  Kekeringan, Petani Berharap Hujan Segera Turun

Berdasarkan mitigasi sementara, wilayah selatan Seltim dan Kediri masuk zona yang perlu diwaspadai. Kendati demikian, hingga kini belum terdapat laporan gangguan kekeringan dari sektor pertanian di Tabanan. Sri Nadha Giri menyebut, dalam koordinasi tingkat provinsi, laporan kekeringan justru telah muncul dari Negara, Jembrana, dan Karangasem. BPBD Tabanan tetap mengantisipasi kemungkinan meningkatnya kebutuhan air apabila kemarau berlangsung lebih panjang.

Untuk mendukung penanganan, BPBD Tabanan memiliki lima unit mesin pompa. Peralatan tersebut selama ini lebih banyak digunakan untuk mengatasi genangan dan banjir, namun dapat dimanfaatkan untuk membantu penyedotan air ketika terjadi kekeringan. “Kami punya lima pompa sedot. Selama ini digunakan untuk banjir, tetapi pernah juga dipinjamkan untuk menyedot air saat kekeringan,” jelasnya.

Baca juga:  Meski Sudah Musim Hujan, Desa Ini Masih Dilanda Kekeringan

Selain ancaman kekeringan, BPBD Tabanan juga mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi lainnya. Kawasan Sanda dan Batungsel, Kecamatan Pupuan, menjadi perhatian karena memiliki potensi longsor. Mitigasi dilakukan antara lain melalui penghijauan kawasan rawan longsor. BPBD Tabanan menerima 1.000 bibit dari BPBD Provinsi Bali berupa bambu, alpukat dan mangga. Bibit tersebut telah diserahkan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabanan untuk didistribusikan ke sejumlah kecamatan. “Mayoritas bibit ditanam di daerah rawan longsor untuk membantu penguatan tanah,” ungkapnya.

Baca juga:  Dua Kecamatan di Bali Ini Berstatus Awas dan Waspada Kekeringan

Di sisi lain, BPBD Tabanan mengusulkan pengadaan mesin pompa berkapasitas empat inci melalui anggaran perubahan. Nilai pengadaan diperkirakan sekitar Rp27 juta. Tambahan peralatan ini dinilai penting untuk mempercepat penanganan banjir maupun kebutuhan penyedotan air saat kekeringan. Saat ini, dari lima pompa yang dimiliki, satu unit dalam kondisi rusak. Karena itu, penambahan pompa berkapasitas lebih besar diharapkan memperkuat kesiapsiagaan BPBD menghadapi ancaman bencana selama musim kemarau maupun saat hujan ekstrem.(Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN