
NEGARA, BALIPOST.com – Persediaan air bersih warga di sejumlah wilayah Kabupaten Jembrana terus menipis seiring berlangsungnya musim kemarau. Hingga pertengahan September 2026, sedikitnya 1.048 kepala keluarga (KK) tercatat terdampak kekurangan air bersih.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana telah melakukan penyaluran air untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat. Total air bersih yang didistribusikan mencapai 408.200 liter atau sekitar 408,2 meter kubik.
Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra, Rabu (16/9) mengatakan penanganan kekurangan air dilakukan dengan menempatkan bak penampungan di sejumlah wilayah yang membutuhkan. Sebanyak 18 unit bak penampungan telah dipasang untuk memudahkan masyarakat menerima dan menggunakan bantuan air.
Meski demikian, penanganan di lapangan menghadapi kendala keterbatasan sarana penampungan. Persediaan tandon air komersial yang dapat digunakan untuk menampung distribusi bantuan masih terbatas.
Kondisi tersebut membuat BPBD harus mencari alternatif agar air yang dikirim tidak terbuang dan dapat langsung dimanfaatkan masyarakat. Pada beberapa titik, petugas membuat tempat penampungan sementara dengan menggunakan terpal.
“Karena ketersediaan penampung air seperti tandon sangat terbatas, kami membuat tempat penampungan darurat menggunakan terpal di beberapa titik. Yang terpenting, air yang didistribusikan bisa tertampung dan langsung dimanfaatkan oleh warga,” ujar Agus Artana.
Menurut dia, kebutuhan distribusi air bersih diperkirakan masih akan meningkat. Hal ini mengingat kondisi kemarau diprediksi berlangsung hingga beberapa bulan mendatang.
“Krisis air bersih ini berpotensi semakin meluas. Apalagi musim kemarau diprediksi masih akan terus terjadi hingga Desember mendatang,” tegasnya.
Mengantisipasi kondisi tersebut, BPBD Jembrana mulai menyiapkan dukungan armada maupun personel untuk melayani permintaan masyarakat. Laporan dari wilayah yang mengalami kekurangan air akan menjadi dasar penyaluran bantuan berikutnya.
Masyarakat juga diimbau menggunakan air secara bijak selama musim kemarau. Warga yang mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih diminta segera menyampaikan laporan kepada pihak terkait sehingga distribusi bantuan dapat dilakukan tanpa menunggu kondisi semakin parah.
Dengan jumlah terdampak yang kini mencapai lebih dari seribu KK, persoalan kekurangan air bersih menjadi perhatian serius selama musim kemarau di Jembrana. Kondisi tersebut berpotensi bertambah apabila kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan. (Surya Dharma/balipost)









