
DENPASAR, BALIPOST.com – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Achris Sarwani mengingatkan, agar capaian deflasi pada Juli 2026 tidak membuat seluruh pemangku kepentingan lengah. Menurutnya, masih terdapat sejumlah faktor yang berpotensi mendorong kenaikan inflasi pada bulan-bulan mendatang.
Menurutnya terdapat tiga risiko yang perlu diperhatikan. Satu, tingginya permintaan barang dan jasa pada periode high season wisatawan mancanegara pada Juli hingga September.
Kedua, ketidakpastian cuaca yang disertai potensi El Nino kuat yang dapat memengaruhi produksi pertanian.
Ketiga, masih tingginya biaya angkutan barang di tingkat global yang dapat memberikan tekanan terhadap harga barang impor.
Meski demikian, BI mencatat kondisi inflasi Bali masih terkendali. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi Bali mengalami deflasi sebesar 0,51 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli 2026.
Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) turun dari 3,27 persen pada Juni menjadi 2,42 persen pada Juli 2026, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,88 persen dan tetap berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
Achris menjelaskan, deflasi Juli terutama dipengaruhi meningkatnya pasokan komoditas hortikultura seiring masuknya masa panen di Bali maupun daerah sentra produksi nasional. Penurunan harga cabai rawit, bawang merah, cabai merah, daging ayam ras, dan buncis menjadi penyumbang utama deflasi.
Namun, lanjutnya, penurunan harga tersebut tertahan oleh kenaikan harga bensin, beras, serta biaya pendidikan pada sejumlah jenjang sekolah.
Untuk menjaga stabilitas harga, BI bersama Pemerintah Provinsi Bali dan pemerintah kabupaten/kota terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.
Menurut Achris, implementasi strategi tersebut dilakukan melalui Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) Balinusra 2026, intensifikasi Gerakan Pangan Murah, rapat koordinasi TPIP-TPID, pemantauan harga secara berkala, fasilitasi distribusi pangan, penguatan kerja sama antardaerah, hingga penyebarluasan informasi kepada masyarakat.
“Dengan berbagai langkah tersebut, kami meyakini inflasi Bali sepanjang 2026 akan tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen,” kata Achris. (Suardika/balipost)










