Pengangkatan bangkai ikan di Danau Batur (BP/Ist)

 

BANGLI, BALIPOST.com – Sebanyak 8,5 ton bangkai ikan yang mati akibat letupan belerang di danau Batur diangkat dari keramba jaring apung (KJA) milik pembudidaya di Desa Buahan dan Desa
Kedisan Sabtu (25/7).

Pengangkatan bangkai ikan itu dilakukan seiring kondisi kualitas air perairan yang mulai membaik pada hari keenam sejak munculnya letupan belerang.

Kabid Perikanan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangli I Wayan Agus Wirawan, mengatakan bahwa kondisi perairan Danau Batur pasca letupan belerang hari ke -6 sudah mulai membaik. Hal itu dapat dilihat dari hasil uji kualitas air harian walaupun dari hasil uji ada beberapa parameter yang masih fluktuatif yang tidak signifikan mempengaruhi kualitas air.

Baca juga:  Diapresiasi, Gubernur Koster Perjuangkan Peningkatan Status STAHN ke Institut

“Dengan kondisi perairan yang mulai membaik, para pembudidaya ikan sudah mulai melakukan pembersihan bangkai ikan di KJA,” kata Agus Wirawan Minggu (26/7).

Kegiatan pembersihan bangkai ikan pada Sabtu dibantu tim dari Dinas PKP Bangli, Penyuluh KKP, DLH, TNI-Polri, mahasiswa, hingga kelompok nelayan setempat. Bangkai ikan yang berhasil diangkat selanjutnya dikirim ke Kelompok Pangan Lestari Desa Pengotan, Bangli untuk dijadikan Pupuk Organik Cair (POC). “Selanjutnya kegiatan pembersihan akan dilakukan secara mandiri oleh pembudidaya dan masyarakat di kedua desa,” ujarnya.

Baca juga:  Delapan Hari Dilanda Semburan Belerang, Puluhan Ton Ikan di Danau Batur Mati

Sementara itu berdasarkan pendataan yang dilakukan Dinas PKP Bangli, fenomena alam letupan belerang tersebut telah menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi para pembudidaya. Total kerugian akibat kematian ribuan ekor ikan di kawasan Danau Batur diperkirakan menembus Rp1,113 miliar, dengan total akumulasi ikan mati mencapai 37,1 ton di tiga desa terdampak, yakni Banjar Dukuh Desa Abang Batudinding, Buahan, dan Kedisan. Kerugian terbesar dialami pembudidaya di Dukuh yang mencapai Rp750 juta (25 ton ikan mati), disusul pembudidaya di Desa Buahan senilai Rp312 juta (10,4 ton ikan mati), serta Desa Kedisan sebesar Rp51 juta (1,7 ton ikan mati). “Jumlah pembudidaya yang terdampak di desa buahan ada 46 orang, Kedisan 6 orang dan di Banjar Dukuh Abang 2 orang,” jelasnya. (Dayu Swasrina/balipost)

Baca juga:  BUGG Inisiasi Pembentukan Komunitas Pelestari Danau Batur, Libatkan Desa Ini
BAGIKAN