Kadisdikpora Bali, Ida Bagus Wesnawa Punia memanggil pihak sekolah SMK PGRI 5 Denpasar, termasuk kepala sekolah dan pengelola untuk dimintai klarifikasi soal Twibbon MPLS Viral, Selasa (14/7). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Desain twibbon Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) milik SMK PGRI 5 Denpasar yang viral di media sosial karena dinilai mengandung unsur vulgar berujung pada teguran dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali. Pihak sekolah, termasuk kepala sekolah dan pengelola, telah dipanggil untuk dimintai klarifikasi, Selasa (14/7).

Kepala Disdikpora Provinsi Bali, Ida Bagus Wesnawa Punia, menegaskan bahwa langkah yang diambil saat ini masih sebatas pembinaan awal. “Sudah saya panggil pengelola dan kasek SMK PGRI 5 Denpasar,” ujar Wesnawa, Selasa (14/7) malam.

Menurutnya, materi promosi yang digunakan sekolah dinilai tidak pantas karena sasaran utamanya adalah lulusan SMP yang baru memasuki jenjang pendidikan menengah. “Baru teguran karena tahap pembinaan awal,” katanya.

Wesnawa menilai promosi sekolah harus mengedepankan nilai-nilai pendidikan dan pembentukan karakter. Konten yang menimbulkan polemik justru berpotensi memberikan contoh yang kurang baik bagi peserta didik. “Itu otomatis melemahkan anak-anak generasi penerus kita juga,” tegasnya.

Baca juga:  Soal Faktur Galian C, Keluhan Sopir Truk Viral di Medsos

Ia juga meluruskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali tidak pernah menginstruksikan satuan pendidikan untuk membuat twibbon dalam pelaksanaan MPLS. Menurutnya, pembuatan materi promosi tersebut sepenuhnya merupakan inisiatif masing-masing sekolah.

“Pemprov Bali tidak mengarahkan harus membuat twibbon. Itu kan inovatif dan inisiatif dari teman-teman pengelola satuan pendidikan,” ujarnya.

Karena menjadi bagian dari promosi sekolah kepada masyarakat, setiap satuan pendidikan dinilai harus memiliki standar yang jelas sebelum mempublikasikan materi kepada calon peserta didik.

“Harusnya kan standarnya harus disiapkan. Itu kan satuan pendidikan yang membuat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Wesnawa menegaskan bahwa baik sekolah negeri maupun swasta pada dasarnya menawarkan layanan pendidikan kepada masyarakat. Karena itu, citra sekolah seharusnya dibangun melalui kualitas pembelajaran, pelayanan, dan pembinaan karakter, bukan melalui konten promosi yang berpotensi menimbulkan persepsi negatif.

Baca juga:  Menhut: Kembalinya Puluhan Perkici Dada Merah ke Bali Bukti Kepercayaan Dunia Internasional

Sementara itu, Kepala SMK PGRI 5 Denpasar, Nuning Kurniawati, SE., MM., M.Pd., mengatakan pihak sekolah telah memanggil siswi baru yang mengunggah desain tersebut untuk diberikan pembinaan intensif sekaligus pendampingan psikologis.

“Titiang (saya,red) ingin menyampaikan bahwa siswa yang bersangkutan telah kami panggil dan lakukan pembinaan secara intensif. Tityang dan staf juga telah memberikan pemahaman mengenai pentingnya menggunakan media sosial secara bijak, bertanggung jawab, serta memahami dampak dari setiap konten yang diunggah,” ujarnya.

Selain pembinaan terkait etika bermedia sosial, sekolah memastikan kegiatan MPLS tetap berlangsung dengan aman dan kondusif. “Saat ini, kami berupaya semaksimal mungkin agar pelaksanaan MPLS di SMK PGRI 5 Denpasar tetap berjalan dengan aman, nyaman, ramah, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” katanya.

Nuning mengungkapkan bahwa perhatian sekolah kini juga tertuju pada kondisi mental siswi tersebut. Setelah unggahannya viral, siswi itu disebut menjadi sasaran perundungan atau cyberbullying yang berdampak pada kondisi psikologisnya.

Baca juga:  Satpol PP Jembrana Cek Operasional Pabrik Limbah Kertas

“Di sisi lain, kondisi psikologis siswa yang bersangkutan juga menjadi perhatian kami. Setelah unggahan tersebut menyebar luas, siswa mengalami perundungan (bullying) di media sosial dan saat ini kondisinya cukup terpuruk serta merasa sangat tertekan. Oleh karena itu, selain melakukan pembinaan, kami juga berupaya memberikan pendampingan agar mental dan kepercayaan dirinya dapat pulih kembali,” ungkapnya.

Sebagai tindak lanjut, SMK PGRI 5 Denpasar menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat pengawasan serta pendidikan literasi digital kepada seluruh peserta didik.

“Kami menjadikan kejadian ini sebagai pembelajaran bagi seluruh peserta didik tentang pentingnya etika dan literasi digital dalam menggunakan media sosial. Ke depan, kami akan terus memperkuat edukasi dan pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” pungkas Nuning. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN