
SINGARAJA, BALIPOST.com – Pelayanan di RSUD Giri Emas, Desa Giri Emas, Kecamatan Sawan, Kabupaten dikeluhkan keluarga pasien dan viral di media sosial. Dalam video yang beredar, keluarga pasien mengeluhkan sejumlah persoalan, mulai dari pasokan oksigen yang disebut sempat habis, minimnya dokter spesialis yang menangani pasien, keterlambatan pemberian obat hingga kurangnya fasilitas ruang perawatan.
Keluhan tersebut diunggah melalui akun Facebook Yan Jerkey. Dalam video berdurasi sekitar sembilan menit itu, seorang pria yang mengaku keluarganya sedang menjalani perawatan di RSUD Giri Emas menyampaikan kekecewaannya terhadap pelayanan rumah sakit.
Ia mengaku ibunya telah menjalani rawat inap selama lima hari akibat penyakit paru-paru dan selama itu bergantung pada bantuan oksigen. Namun, menurutnya, pasokan oksigen sempat terputus. Kondisi itu membuat pasien mengalami kejang-kejang.
Selain itu, ia juga mempertanyakan penanganan medis yang diterima ibunya. Selama lima hari dirawat, belum ada dokter spesialis yang secara jelas menangani kondisi pasien. Ia juga mengeluhkan pemberian obat yang sempat tidak dilakukan sesuai jadwal.
Setelah keluarga mempertanyakan kepada petugas, obat baru kemudian diberikan. Tidak hanya itu, keluarga pasien juga menyoroti minimnya fasilitas di ruang perawatan, termasuk tidak tersedianya seprai di tempat tidur pasien.
Menanggapi viralnya video tersebut, pihak RSUD Giri Emas memberikan klarifikasi melalui video berdurasi sekitar 12 menit. Manajemen rumah sakit mengakui sebagai rumah sakit tipe D, fasilitas yang dimiliki memang masih terbatas.
Pihak rumah sakit menjelaskan bahwa pasien dengan gangguan paru-paru ditangani oleh dokter spesialis penyakit dalam karena belum tersedia dokter spesialis paru. Terkait keluhan oksigen, manajemen menegaskan stok oksigen sebenarnya mencukupi dan tidak pernah mengalami kekosongan.
Menurut pihak rumah sakit, yang terjadi adalah proses perpindahan suplai dari tabung sentral ke cadangan ketika tekanan oksigen menurun. Pada saat proses tersebut alarm akan berbunyi dan petugas harus melakukan pemindahan aliran oksigen. Diduga karena minim SDM, hal ini tidak diinformasikan ke pasien sehingga terjadi kesalahpahaman.
Manajemen RSUD Giri Emas menyatakan persoalan tersebut akan menjadi bahan evaluasi. Rumah sakit juga mengaku telah memiliki tim yang bertugas melakukan pengawasan terhadap fasilitas pelayanan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. “Ini akan menjadi evaluasi nanti kedepan di internal kami,” ujar sumber dari video itu.
Sementara itu, Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra mengaku belum menerima laporan resmi terkait peristiwa yang viral tersebut. Meski demikian, ia memastikan akan segera memanggil Dinas Kesehatan maupun manajemen RSUD Giri Emas untuk melakukan evaluasi.
“Kami belum mendapat laporan. Nanti saya cek lagi. Kalau memang oksigen habis, seharusnya ada cadangan. Nanti kita panggil dinas dan kepala rumah sakit untuk mengetahui persoalannya,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (1/7).
Sutjidra tidak menampik bahwa RSUD Giri Emas masih menghadapi keterbatasan sarana, prasarana, maupun alat kesehatan. Bahkan, menurutnya, kondisi serupa juga masih ditemui di sejumlah rumah sakit milik pemerintah daerah lainnya di Buleleng.
Ia mengatakan, pemerintah daerah saat ini tengah memetakan kebutuhan alat kesehatan yang sudah tidak layak agar dapat diprioritaskan dalam program revitalisasi. Namun, upaya tersebut harus dilakukan secara bertahap mengingat keterbatasan kemampuan fiskal daerah.
“Alat kesehatan memang masih banyak yang perlu diperbarui. Tidak hanya di RSUD Giri Emas. Kita akan lakukan revitalisasi secara bertahap sesuai skala prioritas karena anggaran daerah juga terbatas. Yang sifatnya mendesak tentu akan kami penuhi terlebih dahulu,” jelasnya.
Menurut Sutjidra, untuk pasien yang membutuhkan penanganan spesialis atau fasilitas yang belum tersedia di RSUD Giri Emas, mekanisme rujukan ke RSUD kabupaten tetap menjadi solusi agar pelayanan medis dapat diberikan secara optimal.
“Ke depan kita berharap pembaruan sarana penunjang medis dan alat kesehatan di seluruh rumah sakit daerah dapat terus dilakukan secara bertahap sehingga kualitas pelayanan kepada masyarakat semakin meningkat dalam beberapa tahun ke depan,” tutupnya. (Yudha/balipost)










