Penilaian inovasi yang bertajuk “Rumah Kunang-Kunang Sebagai Community-Led Research & Model Pariwisata Berkualitas Berbasis Konservasi" di Banjar Taro Kaja. (BP/istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Gianyar mendampingi tim juri profesional dalam rangka penilaian lapangan Penghargaan Anugerah Bali Swacitta Nugraha Provinsi Bali Tahun 2026. Penilaian yang berlangsung Rabu (8/7) ini menyasar salah satu inovasi unggulan di bidang Teknologi Pariwisata yang berlokasi di Banjar Taro Kaja, Kecamatan Tegalalang, Gianyar.

Inovasi yang bertajuk “Rumah Kunang-Kunang Sebagai Community-Led Research & Model Pariwisata Berkualitas Berbasis Konservasi” ini merupakan buah karya dari praktisi lokal, I Wayan Wardika. Inisiatif mandiri ini secara resmi mewakili Kabupaten Gianyar untuk berlaga di tingkat Provinsi Bali.

Baca juga:  Ini, Alasan Jerinx Posting Kritikan Berujung Pelaporan

Kepala BRIDA Kabupaten Gianyar, Ketut Sedana, menyampaikan bahwa penilaian lapangan ini dipimpin langsung oleh tim juri profesional yang kompeten di bidangnya, yakni Prof. Dr. Ir. I Wayan Supartha, M.Si. dan Ni Nyoman Trisnawati, S.ST.Par, M.Si. Kehadiran tim juri bertujuan untuk melihat langsung implementasi serta dampak nyata dari inovasi berbasis lingkungan tersebut di lapangan.

Inovator Rumah Konservasi Kunang-kunang, I Wayan Wardika, menjelaskan bahwa gerakan ini lahir dari kepedulian mendalam untuk menjaga kelestarian kunang-kunang, yang dikenal luas sebagai bio-indikator atau penanda alami kesehatan suatu lingkungan.

“Kami membangun laboratorium mini di tengah habitat asli kunang-kunang untuk meneliti siklus hidup, pembiakan, hingga pemeliharaannya. Harapan besar kami, radius terbang kunang-kunang ini bisa mencapai 2 kilometer, yang mana untuk mewujudkan hal tersebut idealnya memerlukan dukungan lahan lestari seluas 27 hektare,” ujar Wardika.

Baca juga:  Penyaluran Kredit di Bali Tumbuh Tinggi, Didominasi Kredit Konsumsi

Lebih lanjut, Wardika memaparkan bahwa metode pelaksanaan inovasi ini telah berhasil merumuskan beberapa formula penting dalam pelestarian habitat. Breeding, proses pembiakan kunang-kunang. Rearing, pemeliharaan dan perawatan kunang-kunang. Habitat Restoration, pemulihan kembali habitat alami. Fireflies Release, pelepasliaran kunang-kunang kembali ke alam bebas.

Selain fungsi ekologis, Rumah Konservasi Kunang-kunang ini dirancang sebagai model eko-wisata ramah lingkungan guna mendukung terciptanya pariwisata yang berkualitas (quality tourism) dan berkelanjutan di Kabupaten Gianyar.

Baca juga:  Sampah Dituding Penyebab Melorotnya Bali dari Posisi Nomor 1 Destinasi Dunia

Melalui inovasi ini, masyarakat luas diharapkan mendapatkan edukasi mengenai pentingnya menjaga keseimbangan alam, terutama menumbuhkan kesadaran akan bahaya penggunaan bahan kimia dan pestisida berlebih pada kawasan pertanian yang dapat merusak ekosistem.

Melalui penilaian Anugerah Bali Swacitta Nugraha 2026 ini, diharapkan sinergi antara inovator lokal, masyarakat, dan pemerintah dapat semakin kuat, terutama dalam mendorong riset yang lebih mendalam terkait pelestarian keanekaragaman hayati di Pulau Dewata. (Wirnaya/balipost)

 

 

BAGIKAN