Sampah di salah satu pantai di Badung. DLHK Badung kini memiliki program Yadnya Sampah untuk mendorong pemilahan sampah dan memperkuat ekonomi banjar. (BP/istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Sampah plastik yang selama ini dianggap tak bernilai kini disulap menjadi sumber dana upacara adat. Pemerintah Kabupaten Badung menghadirkan program “Yadnya Sampah” sebagai solusi cerdas mengatasi persoalan lingkungan sekaligus meringankan beban masyarakat.

Pemkab Badung melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) meluncurkan program baru bertajuk Yadnya Sampah sebagai upaya konkret mengurangi permasalahan sampah plastik di masyarakat. Program ini menggandeng bank sampah untuk membeli plastik bekas yang dikumpulkan warga, di mana hasilnya akan dimanfaatkan untuk pembiayaan kegiatan adat dan keagamaan di tingkat banjar.

Kepala Dinas LHK Badung, Made Rai Warastuthi mengungkapkan bahwa sejatinya Bank Sampah sudah berjalan di sejumlah banjar. Namun, melalui program ini, pengelolaan hasil penukaran sampah akan diarahkan untuk kepentingan bersama.

Baca juga:  Gunung Agung Status Awas, Mangku Sueca dan Mangku Pinda Tetap Ngayah di Besakih

“Kemanfaatannya itu biasanya langsung masuk ke kas-kas perorangan. Sekarang, ayolah kita masukkan ke kas banjar. Itu bisa dipakai untuk nanti pada saat piodalan enam bulan sekali di banjar,” ujar Rai Warastuthi, saat ditemui Kamis (4/6).

Menurutnya, beberapa banjar bahkan telah lebih dulu menerapkan sistem tersebut, meskipun penggunaan dana masih beragam. Ke depan, DLHK mendorong agar dana dari sampah plastik difokuskan untuk kegiatan yadnya agar manfaatnya lebih terasa. “Tetapi, kalau digunakan untuk yadnya enam bulan sekali, jadi dikumpulkan, digunakan, tentu itu akan meringankan, akan membantu,” ungkapnya.

Baca juga:  Badung Raih Inovasi Pelayanan Publik "Outstanding Achievement of Public Service Innovation”

DLHK Badung juga akan mengintensifkan edukasi dan komunikasi kepada masyarakat terkait program ini. Bahkan, rencana lomba Bank Sampah tengah disiapkan guna meningkatkan partisipasi warga. Saat ini, jumlah bank sampah aktif meningkat dari 98 banjar pada 2025 menjadi sekitar 120 banjar.

“Hanya saja untuk program yang yadnya sampah ini, masih kami berikan pilihan, berikan opsi, apakah dia masuk ke kelas perorangan atau ini. Yang terpenting itu sebetulnya adalah pemilahannya ini. Jadi, masyarakat, anggota PKK sudah melakukan pemilahan yang mana organik diselesaikan di rumah, anorganik dibawa ke banjar pada saat rapat PKK, atau ada juga yang seminggu sekali,” terangnya.

Baca juga:  Erwin Soeriadimadja Jabat Kepala KPw BI Bali

Ia berharap program Yadnya Sampah mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah. Selain itu, nilai ekonomis dari sampah plastik diharapkan dapat membantu mengurangi biaya pelaksanaan upacara adat.

“Jadi daripada dibuang sampahnya, padahal dia masih bernilai dan nilai itu masih berguna untuk yadnya. Yang lebih baik itu dikumpulkan dan kemudian bisa ditukarkan yang masih punya nilai ekonomis untuk dijadikan bantuan untuk nanti yadnya,” paparnya.

Dengan pendekatan ini, kata Rai Warastuthi pihaknya tidak hanya fokus pada pengelolaan sampah, tetapi juga mengintegrasikannya dengan nilai budaya dan kearifan lokal yang hidup di masyarakat Bali. (Parwata/balipost)

 

BAGIKAN