Petugas memindahkan Tong Lahsamor usai Apel Siaga Pilah Sampah di Lapangan Puputan Margerana Denpasar, Selasa (7/7). Tong ini merupakan alat untuk mengolah sampah organik. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Teknologi pengolahan sampah organik atau “lahsamor” digadang-gadang menjadi alternatif penanganan masalah sampah di Pulau Bali.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan alat tersebut merupakan buatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

“Hari ini tadi ya apel pemilahan sampah karena kuncinya itu memang di pemilahan organik anorganik, nah ini ada alat, ini buatan BRIN,” kata Zulkifli di Denpasar pada Selasa (7/7) dilansir dari Kantor Berita Antara.

Dalam Apel Siaga Pilah Sampah di Lapangan Renon itu, Zulkifli meninjau langsung proses kerja “lahsamor”, yang dirancang untuk mengolah sampah organik rumah tangga setiap hari.

Baca juga:  Badung Rancang SE Pembangunan Teba Modern hingga Tingkat Rumah Tangga

Dengan teknologi berbahan dasar drum itu, 40 persen sampah harian rumah tangga bisa ditekan masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA), kendati masih terbatas pada penggunaan skala rumah tangga.

“Alatnya kecil tapi ini bisa mengolah 1 kg per hari, 3 tahun tidak penuh-penuh, tapi saya minta juga yang agak besar. Bisa untuk misalnya 50 kg ya. Jadi 50 kg untuk satu sekolah itu pas,” ujar Menko Bidang Pangan.

“Lahsamor” tidak dimaksudkan untuk mengganti inovasi lainnya seperti teba moderen di Bali, melainkan alternatif pendukung bagi masyarakat yang tidak memungkinkan membuat teba di pekarangan.

Baca juga:  Lockdown Pengiriman Ternak Dicabut, Tapi Pembatasan Tetap Diberlakukan

Teknologi ini bekerja dengan cara memasukkan sampah organik busuk 0,5 kg hingga 1 kg per hari kemudian memutar tuas sebanyak lima kali.

Hal yang membuat berbeda dari kantung kompos yang banyak digunakan yakni hasil komposter kantung kompos harus diambil dan membutuhkan berbagai bahan campuran, sementara “lahsamor” hanya perlu dibuka dan diputar sehingga kompos jatuh dengan sendirinya.

Meski kini beragam solusi hadir, Menko Pangan mengingatkan bahwa pilah sampah menjadi langkah utama dalam menyelesaikan persoalan sampah.

Jika di rumah terasa sulit karena mengubah kebiasaan, menurut dia semestinya tidak sulit diterapkan di sekolah, kantor, atau mal karena lebih terorganisir.

Baca juga:  Muncul Usulan Tunda Pilkada Pascasejumlah Komisioner KPU Tertular COVID-19, Ini Tanggapan KPU Denpasar

Selanjutnya ketika sampah terpilah dan sampah organik tertangani, maka hadir sejumlah teknologi yang lebih besar untuk mengolah sampah anorganik seperti PSEL yang akan mulai dibangun di Bali pada 8 Juli 2026.

“Kita akan luncurkan PSEL atau Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik. Ini bisa menyelesaikan open dumping yang sekarang menjadi masalah utama kita, sudah kategori darurat seperti kemarin terjadi di Jatiwaringin kebakaran, lalu sebelumnya Bantar Gebang ada tujuh meninggal,” kata Zulkifli. (kmb/balipost)

BAGIKAN