Wakil Ketua II DPRD Bali, Ida Gede Komang Kresna Budi. (BP/yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Keterbatasan populasi babi hitam Bali yang selama ini menjadi salah satu komponen penting dalam berbagai rangkaian upacara adat dan keagamaan di Bali mulai menjadi perhatian serius pemerintah daerah bersama DPRD Bali. Selain untuk kebutuhan konsumsi, keberadaan ternak tersebut dinilai memiliki nilai strategis dalam mendukung keberlangsungan tradisi masyarakat Bali.

Wakil Ketua II DPRD Bali, Ida Gede Komang Kresna Budi, Senin (22/6), mengatakan bahwa kebutuhan babi di Bali terus meningkat seiring padatnya pelaksanaan upacara adat, mulai dari hari raya Galungan dan Kuningan, upacara pernikahan, ngenteg linggih, hingga tradisi babi guling yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat.

Baca juga:  Perang Lawan Corona

“Babi sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Bali. Selain kebutuhan konsumsi, permintaan juga tinggi untuk upacara adat dan hari raya keagamaan,” ujarnya.

Menurutnya, di sejumlah wilayah Bali Aga, penggunaan babi hitam sebagai sarana upacara masih dipertahankan hingga saat ini. Namun, ketersediaannya kian terbatas karena budidaya yang dilakukan masyarakat masih bersifat tradisional dan dalam skala kecil. “Budi daya babi hitam Bali ini kebanyakan masih rumahan, dipelihara ibu-ibu dalam jumlah terbatas, padahal kebutuhannya sangat tinggi di Bali,” katanya.

Kresna Budi menegaskan, kondisi tersebut mendorong DPRD Bali bersama Pemerintah Provinsi Bali untuk menyiapkan program penguatan budi daya babi hitam. Wacana tersebut disebut telah mendapatkan dukungan dari Gubernur Bali.

Baca juga:  Dua Kali Curi TV, Pria Asal Karangasem Dibekuk di Tabanan

Pemerintah Provinsi Bali sendiri telah menyiapkan usulan anggaran hibah sekitar Rp1,2 miliar yang diharapkan dapat masuk dalam APBD perubahan tahun 2026. Anggaran tersebut akan difokuskan untuk memperkuat kelompok peternak melalui bantuan bibit, pakan, serta pendampingan teknis budi daya.

Program tersebut juga diarahkan untuk memperbaiki sistem manajemen peternakan agar lebih modern dan berkelanjutan. Salah satu persoalan utama yang dihadapi peternak selama ini adalah tingginya biaya pakan serta kerentanan ternak terhadap penyakit. “Kalau hanya diberi bibit, peternak tetap kesulitan membeli pakan. Karena itu, bantuan harus lengkap, termasuk pakan agar budi daya bisa berjalan,” ujarnya.

Baca juga:  Pencanangan Penggunaan Aksara Bali Disebut Tonggak Pelestarian Bahasa Ibu

Selain dukungan sarana produksi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia peternak juga menjadi perhatian. Edukasi terkait sanitasi kandang, pencegahan penyakit, hingga pemanfaatan teknologi peternakan dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas dan menekan resiko kematian ternak. “Penguatan budi daya babi hitam Bali tidak hanya mampu menjawab kebutuhan upacara adat yang terus meningkat, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa,” tandasnya. (Yudha/balipost)

 

BAGIKAN