Ilustrasi. (BP/Suarsana)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pandemi COVID-19 telah memaksa masyarakat untuk tetap berada di rumah selama 2 bulan. Namun, tidak mungkin untuk terus menerus menahan orang tetap berada di rumah hingga berbulan-bulan lamanya.

Apalagi tidak ada kepastian kapan pandemi akan berakhir. “Kalau kita ikuti dinamika kebijakan di pusat, seperti Bapak Presiden sampaikan, beliau menggunakan istilah masyarakat agar produktif dan aman,” ujar Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Bali, Dewa Made Indra dalam video conference, Senin (18/5).

Menurut Dewa Indra, produktif yang dimaksud berarti masyarakat bisa bekerja dan beraktivitas. Tetapi harus aman dari COVID-19, yang artinya diikuti dengan pengetatan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Keduanya harus dipahami sebagai satu kesatuan.

Kalau tidak, maka pelonggaran aktivitas bisa menimbulkan penyebaran baru. “Oleh karena itu, maka dinamika kebijakan yang mulai melonggarkan aktivitas masyarakat ini harus kita pahami dalam konteks itu,” imbuhnya.

Bali, lanjut Dewa Indra, tidak bisa bertentangan dengan kebijakan nasional. Pemprov Bali lewat Gugus Tugas pasti akan mencermati kebijakan pelonggaran aktivitas tersebut dengan melihat dinamika situasi di lapangan. Belakangan ini pun, aktivitas masyarakat sudah mulai terlihat dengan lebih banyak lagi orang yang berada di jalan raya karena harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Tapi hari-hari ini kita juga melihat semakin banyak warga masyarakat kita menggunakan masker. Mudah-mudahan diikuti dengan rajin mencuci tangan dan menjaga jarak,” jelasnya.

Dewa Indra menambahkan, pemerintah pusat memang mendorong Bali untuk menjadi daerah pertama yang hidup normal dengan membuka kembali aktivitas ekonomi. Akan tetapi, Gubernur Bali Wayan Koster masih menunda hal itu.

Penularan COVID-19 karena transmisi lokal yang masih terjadi hari ke hari menjadi pertimbangannya. Walaupun masih lebih rendah bila dibandingkan imported case, namun transmisi lokal tidak bisa diabaikan begitu saja. “Bapak Gubernur sudah berkomitmen, begitu COVID-19 ini grafiknya mulai landai bahkan menurun, maka saat itu baru akan diarahkan untuk membuka Bali ini lebih normal tetapi tidak langsung 100 persen,” paparnya.

Dewa Indra menyebut ada prioritas-prioritas tertentu yang mana boleh dibuka. Ini terkait dengan upaya-upaya pencegahan penyebaran COVID-19. Jangan sampai keinginan yang terlalu cepat untuk hidup normal justru membuahkan hasil yang tidak diharapkan, sehingga harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Namun yang pasti, Pemprov Bali sudah memiliki skema untuk normalisasi. “Hari ini kita masih fokus melakukan pengendalian COVID-19 terutama sekali dari transmisi lokal. Ini menjadi perjuangan berat dari hari ke hari,” tandasnya. (Rindra Devita/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.