
JAKARTA, BALIPOST.com – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan cadangan devisa RI tetap kuat untuk mengantisipasi risiko pelemahan nilai tukar rupiah sehingga publik tidak perlu khawatir.
“Jadi jangan khawatir, jumlah cadangan devisa lebih dari cukup,” kata Perry di Gedung DPR RI Jakarta, Selasa (9/6).
Ia menjelaskan bahwa kecukupan cadangan devisa selalu diukur menggunakan indikator yang dikeluarkan Dana Moneter Internasional (IMF), yakni “reserve adequacy”.
Melalui indikator tersebut, BI menghitung besaran cadangan devisa yang diperlukan untuk mengantisipasi tekanan terhadap rupiah, termasuk jika terjadi pelemahan nilai tukar yang cukup dalam.
“Kami ukur-ukur itu, dan sekarang masih lebih dari 115 persen. Jadi masih lebih dari cukup itu. Di samping setara sekitar 6 bulan impor,” kata Perry.
Sebagai informasi, di tengah pelemahan nilai tukar, cadangan devisa Indonesia terus mengalami penurunan sejak akhir Desember 2025.
Dalam lima bulan terakhir, cadangan devisa telah menyusut sebesar 11,6 miliar dolar AS atau sekitar 7,4 persen dari posisi 156,5 miliar dolar AS pada akhir Desember 2025.
Pada akhir Mei 2026, cadangan devisa tercatat sebesar 144,9 miliar dolar AS atau menurun 1,3 miliar dolar AS dari bulan sebelumnya, seiring dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Penurunan tersebut terjadi meski terdapat tambahan devisa yang berasal penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa.
Menurut BI, posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 tetap kuat atau setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Pada Selasa melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan, BI memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) sehingga kini berada pada level 5,5 persen.
Adapun BI belum lama ini menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 bps pada RDG Bulanan pada 19-20 Mei 2026.
Kenaikan BI-Rate pada Mei 2026 menjadi langkah penyesuaian pertama setelah suku bunga acuan dipertahankan di level 4,75 persen sejak September 2025. Sepanjang 2025, BI sebelumnya telah memangkas bunga acuan sebanyak lima kali dengan total penurunan sebesar 125 bps.
BI dijadwalkan kembali melaksanakan RDG Bulanan pada 17-18 Juni 2026. (kmb/balipost)










