Salah seorang pedagang sedang melayani pembeli bumbu dapur di Pasar Anyar Sari, Denpasar. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Perekonomian Bali pada 2026 diproyeksikan oleh Bank Indonesia tetap berada di jalur ekspansi yang kuat, dengan perkiraan pertumbuhan tahunan di kisaran 5,5% hingga 5,9% (bahkan sebagian proyeksi optimistis memperkirakan bisa menyentuh 6,2%).

Ekonom Prof. I Made Sara menilai pertumbuhan ekonomi pada semester II atau Juli-Desember tahun ini akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor.

Faktor tersebut, salah satunya puncak musim liburan. Pada semester II selalu menjadi periode emas perekonomian Bali karena adanya summer holiday wisatawan mancanegara (Juli – Agustus) serta libur Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru di akhir tahun.

Baca juga:  Ops Keselamatan Agung 2026 di Buleleng Dengan Edukasi dan Penindakan Humanis

“Ini akan mendorong kinerja Lapangan Usaha (LU) Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (Akmamin) berada pada titik tertingginya,” katanya.

Kedua, sektor konstruksi dan proyek infrastruktur, dampak dorongan dari realisasi proyek infrastruktur strategis seperti kelanjutan Tol Gilimanuk-Mengwi, pengembangan transportasi massal berbasis kereta, serta penataan pelabuhan akan mendongkrak konsumsi semen, serapan tenaga kerja, dan investasi fisik sepanjang paruh kedua tahun ini.

Ketiga, konsumsi domestik yang solid, mendorong daya beli masyarakat lokal yang terjaga ditambah dengan perputaran uang dari kunjungan wisatawan domestik pada masa libur sekolah dan akhir tahun akan menjaga sektor perdagangan tetap ekspansif.

Baca juga:  Samsam Guling Ganas Pan Aplus, "Hidden Gem" di Kawasan Hutan Sangeh

Sara juga menilai aka nada beberapa tantangan yang membayangi semester II. Tekanan inflasi musiman, dampak kenaikan permintaan barang dan jasa selama high season pariwisata di pertengahan dan akhir tahun biasanya memicu kenaikan tarif tiket pesawat dan komoditas pangan. Upaya pengendalian inflasi daerah akan diuji berat di periode ini.

Kemudian, kapasitas daya dukung (carrying capacity), berdampak pada masalah kemacetan ekstrem di wilayah Sarbagita, krisis sampah, dan keterbatasan air bersih jika tidak dimitigasi dengan baik pada Semester II berisiko menurunkan kepuasan wisatawan secara instan, yang dalam jangka menengah dapat mengalihkan arus kunjungan ke destinasi kompetitor di Asia Tenggara. (Suardika/balipost)

Baca juga:  Video Porno di Gunung Batur Dilidik Cyber Crime, Ini Hasilnya 
BAGIKAN