
DENPASAR, BALIPOST.com – Bank Indonesia (BI) menilai penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) oleh masyarakat Bali masih memiliki ruang untuk terus ditingkatkan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani mengungkapkan saat ini jumlah merchant QRIS di Bali telah mencapai sekitar 1,1 juta. Namun, jumlah pengguna QRIS yang ber-KTP Bali baru sekitar 1,2 juta orang.
“Merchant sudah sangat banyak, tetapi pengguna dari masyarakat Bali sendiri masih perlu terus didorong agar semakin banyak yang memanfaatkan QRIS dalam kehidupan sehari-hari,” katanya saat pembukaan QRIS Jelajah Indonesia (QJI) Bali 2026 di Renon, Sabtu (4/7).
BI Provinsi Bali terus mengintensifkan berbagai upaya untuk meningkatkan penggunaan QRIS di kalangan masyarakat lokal. Ia mengatakan saat ini jumlah pengguna QRIS ber-KTP Bali baru mencapai sekitar 1,2 juta orang.
Padahal, volume transaksi QRIS di Bali terus meningkat, yang menunjukkan tingginya aktivitas pembayaran digital di Pulau Dewata.
Menurutnya, hingga lima bulan pertama 2026, transaksi QRIS di Bali telah mencapai sekitar 116 juta transaksi. Namun, transaksi tersebut tidak seluruhnya berasal dari masyarakat Bali karena juga dilakukan wisatawan domestik maupun mancanegara yang berbelanja di Pulau Dewata.
Untuk meningkatkan jumlah pengguna lokal, BI menggandeng industri perbankan, Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) dalam memperluas edukasi dan pengalaman penggunaan QRIS kepada masyarakat.
Selain itu, BI juga mendorong pemanfaatan QRIS dalam berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari transaksi di UMKM, pasar tradisional, hingga pembayaran layanan masyarakat. Melalui kegiatan QRIS Jelajah Indonesia, masyarakat juga diajak merasakan langsung kemudahan pembayaran digital.
“Kami ingin masyarakat Bali mencoba dan merasakan sendiri kemudahan menggunakan QRIS. Kalau sudah merasakan manfaatnya, kami yakin penggunaan QRIS akan semakin luas,” ujar Achris.
Achris menambahkan, semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan QRIS, semakin kuat pula ekosistem ekonomi digital di Bali. Hal itu diharapkan mampu mendukung efisiensi transaksi, memperluas inklusi keuangan, serta memperkuat daya saing ekonomi daerah.
Ia berharap penggunaan QRIS tidak hanya untuk berbelanja di pusat perbelanjaan maupun restoran, tetapi juga dapat dimanfaatkan dalam berbagai aktivitas masyarakat seperti pembayaran iuran banjar, retribusi daerah, hingga berbagai layanan publik.
Ia mengatakan kemudahan transaksi digital memungkinkan masyarakat melakukan pembayaran kapan saja dan dari mana saja tanpa harus membawa uang tunai.
Bank Indonesia berharap perluasan penggunaan QRIS di tingkat masyarakat dapat mempercepat transformasi ekonomi digital sekaligus memperkuat inklusi keuangan di Bali.
“Kalau masyarakat sudah merasakan sendiri kemudahannya, saya yakin penggunaan QRIS akan semakin luas di seluruh Bali,” ujarnya. (Suardika/baliposf)










