
MANGUPURA, BALIPOST.com – Perumda Air Minum Tirta Mangutama atau PDAM Badung mulai menyiapkan berbagai terobosan guna mengantisipasi ancaman krisis air bersih di masa depan. Di tengah meningkatnya tekanan terhadap sumber air baku konvensional, perusahaan daerah tersebut memprioritaskan upaya pemanfaatan air hujan yang selama ini sebagian besar terbuang ke laut tanpa dimanfaatkan secara optimal.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi sumber air yang dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan air bersih bagi masyarakat Badung. Selain mengembangkan teknologi pengolahan air laut melalui sea water reverse osmosis (SWRO), Perumda Air Minum Tirta Mangutama saat ini lebih dahulu memetakan potensi pemanfaatan air hujan sebagai sumber air baku alternatif yang tersedia melimpah saat musim penghujan.
Plt. Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Mangutama, I Wayan Suyasa mengatakan, ketergantungan terhadap sumber air permukaan dan air tanah tidak bisa terus dipertahankan karena kondisinya terus mengalami penurunan.
“Air permukaan semakin hari semakin menurun, baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Debit sungai juga terus berkurang. Sementara, air laut tidak pernah habis,” ujar Suyasa, Minggu (7/6).
Menurutnya, kondisi tersebut mendorong perlunya pengembangan sumber-sumber air baru yang lebih berkelanjutan. Salah satu potensi yang saat ini menjadi perhatian adalah air hujan yang selama musim penghujan kerap menimbulkan limpasan dan akhirnya bermuara ke laut.
Di sejumlah wilayah Badung, curah hujan yang tinggi belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai sumber air baku. Sebaliknya, sebagian besar air hujan mengalir ke sungai dan laut, bahkan dalam beberapa kasus memicu genangan dan banjir di kawasan tertentu. Melihat kondisi itu, Perumda Tirta Mangutama mulai melakukan kajian untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi yang berpotensi dibangun fasilitas penangkapan dan pengolahan air hujan.
“Sekarang kami sedang mengkaji titik-titik mana yang bisa dibangun fasilitas pengolahan. Jadi sebelum air itu terbuang atau menimbulkan banjir, bisa kami ambil dan olah menjadi air bersih,” kata Suyasa.
Konsep yang disiapkan adalah menangkap aliran air hujan maupun debit sungai yang meningkat saat musim penghujan untuk kemudian diolah menjadi air bersih. Dengan sistem tersebut, air yang selama ini terbuang dapat dimanfaatkan sebagai cadangan sumber air baku sekaligus membantu mengurangi potensi banjir di sejumlah wilayah.
Upaya tersebut juga dinilai penting untuk mengurangi tekanan terhadap pemanfaatan air tanah. Selama ini, eksploitasi air tanah yang berlebihan berisiko memicu berbagai persoalan lingkungan, termasuk intrusi air laut dan penurunan kualitas sumber daya air. Karena itu, pengembangan sumber air alternatif menjadi kebutuhan yang semakin mendesak seiring pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kebutuhan air bersih di Badung.
Selain program pemanfaatan air hujan, Perumda Tirta Mangutama juga tetap mematangkan rencana pengolahan air laut menjadi air bersih melalui teknologi SWRO. Saat ini proyek tersebut masih berada pada tahap pemantapan feasibility study (FS) atau studi kelayakan.
“Perumda Tirta Mangutama bersama pemerintah tengah menyiapkan berbagai tahapan lanjutan, mulai dari seleksi mitra, penyusunan kajian akademis hingga penyempurnaan aspek hukum dan perizinan,” ungkapnya.
Meski demikian, pemanfaatan air hujan dinilai menjadi langkah yang lebih dekat untuk direalisasikan karena memanfaatkan sumber daya yang telah tersedia secara alami setiap musim penghujan. Perumda Tirta Mangutama berharap pengembangan sistem tersebut dapat menjadi solusi jangka panjang dalam menjaga ketahanan air bersih sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan di Kabupaten Badung.
“Karena itu, pemanfaatan air hujan dan air laut diproyeksikan menjadi dua sumber air alternatif yang akan menopang kebutuhan air bersih masyarakat Badung di masa mendatang,” pungkasnya. (Parwata/balipost)










