Unit mobil pemadam kebakaran (Damkar) Kota Denpasar yang siaga di Pos Damkar Cokro, Jalan Cokroaminoto, Ubung, Denpasar. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Saluran pipa hydrant untuk penanganan kebakaran di Denpasar masih menjadi satu dengan pipa pelanggan air PDAM. Saat penggunaan air tinggi, debit akan mengalami penurunan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, masing-masing pos pemadam kebakaran (damkar) dilengkapi dengan ground tank.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Denpasar, I Made Tirana, Jumat (12/6), mengatakan, saat ini hanya dua pos damkar yang belum dilengkapi ground tank yakni pos Mahendradatta dan pos Ubung. Pos Mahendradatta akan dilengkapi saat renovasi yang rencananya dilakukan tahun 2027.

Baca juga:  Perbekel Desa Kayuputih Keluhkan Jalan Rusak

Kemudian untuk pos Ubung pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas perhubungan karena berada di areal terminal. “Karena di Ubung kan berada di terminal, apakah bisa bangun ground tank di sana, kami koordinasikan dengan dinas perhubungan dulu,” paparnya.

Sementara itu, pos lainnya sudah dilengkapi oleh ground tank, termasuk pos damkar baru yakni Serangan dan Kesiman. Teknologi ini akan menjadi tempat penampungan air di masing-masing pos. “Ground tank ini untuk memudahkan pada saat penanganan kebakaran kami kekurangan air. Sehingga kami bisa dengan cepat,” paparnya.

Baca juga:  Ini, 5 Minuman yang Sehat Dikonsumsi

Di sisi lain, Triana mengatakan, ada juga usulan dari DPRD Denpasar agar pipa hydrant dibedakan dengan saluran pelanggan. Untuk itu, pihaknya sedang melakukan pendekatan dengan Perumda Air Minum Tirta Sewakadarma. “Saat ini kami sedang bangun dua pos baru, mudah-mudahan akhir tahun ini selesai. Setelah itu baru kami akan melangkah ke hydrant bersama dengan PDAM,” katanya.

Tirana mengatakan, saat ini semua desa/kelurahan di Kota Denpasar telah memiliki hydrant. Ada sebanyak 48 hydrant yang tersebar di 43 desa/kelurahan di Denpasar.

Baca juga:  Mati Berhari-hari, Pedagang Keluhkan Air Toilet Pasar Kidul

Meski begitu, idealnya dalam satu desa/kelurahan terdapat tiga hydrant. “Kalau sekarang, masing-masing desa dan lurah sudah ada. Tapi debit airnya belum maksimal. Artinya, pada saat-saat jam sibuk masyarakat mandi atau yang lainnya, debit airnya kecil,” imbuhnya. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN