Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng, I Made Lestariana, Jumat (19/6). (BP/yud)

 

SINGARAJA, BALIPOST.com – Upaya mengatasi kekurangan pasokan air bersih di sejumlah wilayah pelayanan terus dilakukan Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng. Perusahaan milik daerah itu kini menyiapkan dua proyek pengembangan sumber air baku sebagai langkah meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menekan defisit layanan yang masih terjadi di beberapa kawasan.

Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng, I Made Lestariana, Jumat (19/6), mengatakan, dua proyek yang menjadi prioritas yakni pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Mata Air Pegadungan dan Mata Air Ambengan.

Kedua proyek tersebut diproyeksikan mampu memperkuat pasokan air bersih di wilayah yang selama ini masih mengalami kekurangan layanan.

Baca juga:  Sertifikasi Kesiapsiagaan Bencana akan Diperluas Cakupannya

Menurut Lestariana, pengembangan SPAM Mata Air Pegadungan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di wilayah Banyuning dan Petandakan. Selama ini, dua kawasan tersebut masih mengalami defisit pasokan air sehingga memerlukan tambahan kapasitas produksi.

“Pengembangan Mata Air Pegadungan kami arahkan untuk peningkatan pelayanan di Petandakan dan Banyuning. Kapasitas yang direncanakan mencapai 100 liter per detik,” ujarnya.

Untuk merealisasikan proyek tersebut dibutuhkan investasi sekitar Rp20 miliar. Perumda Tirta Hita pun telah memasukkan rencana pengembangan itu dalam ajang Bali Jagadhita Investment Forum sebagai salah satu peluang investasi sektor air minum di Kabupaten Buleleng.

Baca juga:  Dua Tahun Vakum, "Mebuug-buugan" di Kedonganan Digelar

Selain Pegadungan, Perumda Tirta Hita juga menyiapkan pengembangan Mata Air Ambengan. Proyek ini ditujukan untuk memperkuat pelayanan air bersih di wilayah Sambangan dan Baktiseraga yang juga masih mengalami kekurangan pasokan.

“Kami juga menyiapkan pengembangan Mata Air Ambengan untuk mengatasi defisit layanan di Sambangan dan Baktiseraga,” katanya.

Meski demikian, Lestariana menjelaskan skema kerja sama yang saat ini memungkinkan masih sebatas pola business to business (B to B). Hal itu karena status Perumda Tirta Hita masih berbentuk perusahaan umum daerah sehingga belum dapat menerapkan skema investasi berbasis kepemilikan saham.

“Kalau sistem saham belum memungkinkan karena Perumda belum berbentuk persero. Saat ini yang memungkinkan adalah kerja sama business to business,” jelasnya.

Baca juga:  Rutan Bangli Kumpulkan 21 Kantong Darah

Di tengah kebutuhan pengembangan layanan yang terus meningkat, Perumda Tirta Hita juga berharap adanya tambahan penyertaan modal dari Pemerintah Kabupaten Buleleng. Dalam empat tahun terakhir, perusahaan daerah tersebut belum lagi menerima suntikan modal dari pemerintah daerah. Padahal, nilai penyertaan modal Pemkab Buleleng yang tercatat sebagai kekayaan daerah yang dipisahkan mencapai sekitar Rp62 miliar.

“Tambahan penyertaan modal dinilai penting untuk mempercepat pembangunan infrastruktur penyediaan air bersih sehingga cakupan pelayanan kepada masyarakat dapat terus ditingkatkan,” tambahnya. (Yuda/balipost)

 

BAGIKAN