I Kadek Yogi Suardana. (BP/istimewa)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Pemuda asal Banjar Dinas Badeg Dukuh, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem bernama I Kadek Yogi Suardana (22) melakukan perjalanan dari Singaraja ke Karangasem. Remaja lulusan Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) tersebut membayar sesangi (kaul) dengan berjalan kaki kurang lebih sejauh 91 kilometer dari Singaraja ke Karangasem.

I Kadek Yogi Suardana menuturkan, kaul yang dilalukan tersebut bukan tanpa alasan. Kata dia, hal itu dilakukan karena sebelumnya dirinya sempat harus ketinggalan mata kuliah semester 3, padahal seharusnya dirinya sudah berada di semester 5 karena kesibukannya mengikuti organisasi kampus.

Baca juga:  Percepat Penanganan COVID-19, Badung Ajak Keterlibatan Dunia Usaha

Dari sanalah muncul kalau seandainya nanti berhasil lulus kuliah tepat waktu akan berjalan kaki dari kampus sampai ke rumahnya. “Teman-teman sempat menertawakan karena dianggap mustahil. Namun, sebagai sarjana di bidang olahraga, ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu secara fisik dan mental,” ujarnya.

Menurut Yogi, kaul itu dilakukan setelah dirinya akhirnya lulus sarjana. Aksi berjalan kaki tersebut kemudian dilakukan pada Jumat (29/5).

Sebelum memulai perjalanan ia terlebih dahulu memohon restu di palinggih yang ada di kampus setelah itu dirinya melanjutkan perjalanan sekitar pukul 01.00 WITA dini hari dengan ditemani oleh teman-temannya.

Baca juga:  Setahun Jebol, Jalan di Sidawa Belum Dapat Penanganan

“Pada awal perjalanan, rasa pesimis sempat menghampiri. Tapi, setelah dirinya mengingat perjuangan orang-orang yang membantunya untuk masuk kuliah di awal, saya kembali bersemangat. Apalagi, seiring berjalannya waktu dan kilometer yang berhasil dilalui, semangat justru semakin meningkat dan percaya bisa sampai ke rumah,” katanya.

Menurut Yogi, tantangan terbesar menjalani kaul tersebut bukan hanya jarak, tetapi juga menjaga kondisi tubuh. Selama perjalanan, dirinya hanya makan satu kali saja.

Hal tersebut dilakukan agar tidak mengganggu ritme perjalanan. “Titik terberat yang saya rasakan ketika berada di wilayah Desa Pempatan, Kecamatan Rendang. Di sana medan jalan yang menurun, ditambah kondisi kaki yang sudah sangat lelah sekali,” jelasnya.

Baca juga:  Banjir Bandang Landa Desa Sumberklampok, Puluhan Rumah Terdampak

Ia menyatakan, untuk mengurangi rasa sakit, dirinya memakai pembalut untuk mengganjal sepatunya. Ia menjelaskan, setelah melakukan perjalanan panjang, sekitar pukul 23.30 WITA, ia berhasil sampai di rumah dan bertemu dengan keluarga dan beberapa masyarakat lainnya yang sudah menunggu di rumahnya. Jarak yang ditempuh untuk sampai sekitar 91 kilometer. “Saya bersyukur bisa sampai rumah dan menunaikan nazar. Rasanya lega, sesangi akhirnya terbayarkan,” imbuh Yogi. (Eka Parananda/balipost)

BAGIKAN