Rombongan Bupati menyebrangi sungai saat hendak menuju hutan Kota Singaraja.(BP/yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Akses menuju kawasan hutan kota yang menjadi lokasi pertanian terintegrasi milik Pemkab Buleleng di Kelurahan Banyuasri, Kecamatan Buleleng, terputus sejak jembatan Bailey milik TNI AD dibongkar. Akibatnya, masyarakat yang mau berkunjung di kawasan tersebut kini harus menyeberangi Sungai Banyumala untuk menuju lokasi hutan kota.

Pemerintah Kabupaten Buleleng memastikan pembangunan jembatan permanen segera direalisasikan di lokasi yang sama. Bahkan proses tender proyek tersebut direncanakan mulai dilakukan pada Juni 2026. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, Senin (25/5), mengatakan pembangunan jembatan permanen sempat mengalami kendala saat proses lelang sebelumnya.

Baca juga:  Ribuan Krama Desa Adat Nagasepaha Iringi Melasti di Penyawangan Pura Segara

Menurutnya, tidak ada peserta yang mengajukan penawaran karena adanya kenaikan harga material bangunan. “Kan harus dilakukan penyesuaian harga karena harga-harga sekarang naik. Aspal naik, besi naik, termasuk semen juga naik. Kemarin sempat ada yang dilelang tetapi gagal karena tidak ada yang menawar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, anggaran pembangunan jembatan kini disesuaikan menjadi sekitar Rp5 miliar dari sebelumnya berkisar Rp4 miliar lebih. Penyesuaian itu dilakukan agar proyek pembangunan jembatan diminati pihak rekanan. “Mudah-mudahan bulan Juni ini mulai dilelang. Astungkara ada yang menawar nanti,” katanya.

Baca juga:  Mesti Dipermudah, Petani Dapat Modal Kerja dan Bibit Gratis

Saat ditanya terkait lokasi pembangunan, Sutjidra memastikan jembatan permanen tetap dibangun di titik yang sama seperti jembatan sebelumnya. Yakni di sebelah utara hutan Kota Singaraja.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Perumahan dan Permukiman (PUPR Perkim) Buleleng, I Putu Adiptha Eka Putra, menjelaskan detail teknis jembatan permanen tersebut. Jembatan dirancang memiliki panjang sekitar 30 meter dengan lebar tujuh meter.

Baca juga:  Tanah Longsor dan Pohon Tumbang Tutup Akses Jalan di Gianyar

Menurutnya, Detail Engineering Design (DED) proyek telah rampung disusun. Pengumuman tender diperkirakan dapat dilakukan dalam waktu sekitar sepekan ke depan. “Penyesuaian anggaran terjadi karena harga material seperti besi, pasir, dan beton mengalami kenaikan. Awalnya sekitar Rp4 miliar, sekarang menjadi sekitar Rp5 miliar,” jelasnya.

Ia menambahkan, waktu pengerjaan jembatan diperkirakan berlangsung sekitar lima bulan setelah kontrak proyek berjalan. “Kalau kontraknya sekitar 5 bulan kalender. Dalam waktu dekat ini kita lakukan tender,” kata Adiptha. (Nyoman Yudha/balipost)

BAGIKAN