Ketut Putra Sedana. (BP/yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Dr.dr. Ketut Putra Sedana didaulat menakhodai Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Buleleng. Di balik amanah tersebut, pekerjaan rumah besar telah menanti. Salah satunya adalah menekan laju konversi lahan pertanian yang terus terjadi dan dinilai mengancam keberlanjutan sektor pertanian di daerah.

Penunjukan mantan Ketua BMI Buleleng itu mengemuka dalam rapat koordinasi calon pengurus DPC HKTI kabupaten/kota se-Bali yang digelar Rabu (10/6).

Ditemui Jumat (12/6), Putra Sedana mengatakan, persoalan alih fungsi lahan menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi sektor pertanian di Buleleng saat ini.

Menurutnya, luas kawasan pertanian dan perkebunan di Buleleng cukup besar, namun lahan pertanian produktif yang aktif digarap jumlahnya jauh lebih sedikit.

“Yang kita tahu di Buleleng, area pertanian dan perkebunan kalau tidak salah sekitar 125 ribu hektare. Sedangkan lahan pertanian yang produktif hanya sekitar 8 ribu hektare. Ini menjadi masalah juga. Bagaimana supaya bisa menghentikan konversi lahan pertanian menjadi lahan perumahan dan lain sebagainya,” ujarnya.

Baca juga:  Lahan Sawah di Bali Menyusut, Produksi Padi Alami Penurunan

Ia mengakui tantangan tersebut tidak mudah diatasi. Pertumbuhan jumlah penduduk dan kebutuhan pembangunan membuat tekanan terhadap lahan pertanian semakin besar. Di sisi lain, minat generasi muda untuk menekuni profesi petani juga terus menurun.

Padahal menurutnya, sektor pertanian merupakan bidang usaha yang menjanjikan apabila dikelola dengan baik. Hanya saja, hasil yang diperoleh tidak bisa dinikmati secara instan karena membutuhkan waktu dan proses.

“Profesi petani sebenarnya sangat menjanjikan. Ini investasi jangka panjang. Hasilnya bisa menjadi passive income, masyarakat sekarang cenderung ingin hasil cepat dan instan. Ini menjadi tantangan kita bersama,” katanya.

Baca juga:  Nyepi, ATM BPD Bali Nonaktif Sementara

Karena itu, kehadiran HKTI di Buleleng diharapkan mampu menjadi wadah yang menjembatani berbagai persoalan petani. Langkah awal yang akan dilakukan adalah turun langsung mendengar kondisi petani serta memetakan persoalan yang dihadapi di lapangan.

“Kita akan melihat dan mendengar bagaimana sebenarnya kondisi petani-petani yang ada di bawah. Inilah yang akan kita carikan solusinya,” tegasnya.

Putra Sedana menegaskan HKTI Buleleng tidak hanya berfokus pada ketahanan pangan, tetapi ingin mendorong terwujudnya kedaulatan pangan. Menurutnya, Buleleng memiliki sumber daya alam yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri apabila dikelola secara optimal.

“Kalau ketahanan pangan itu bicara soal ketersediaan dan ketercukupan. Tapi kita ingin menuju kedaulatan pangan. Artinya Buleleng mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri dari hasil yang diproduksi masyarakatnya,” jelasnya.

Baca juga:  Stok Darah Plasma Konvalesen Kosong, Ini Harapan Pangdam

Ia juga menilai HKTI memiliki peran penting sebagai jembatan komunikasi antara petani dan para pengambil kebijakan. Selama ini, menurutnya, masih terdapat sejumlah persoalan yang belum tersampaikan secara optimal sehingga berdampak pada kesejahteraan petani.

“HKTI hadir menjadi solusi atau katalisator antara pengambil kebijakan dengan petani. Harapan petani dan keinginan pemerintah harus bisa dipertemukan. Target utamanya adalah kesejahteraan petani,” imbuhnya.

Terkait kepengurusan, Putra Sedana menjelaskan saat ini HKTI Buleleng masih dipimpin oleh tim caretaker yang terdiri atas lima orang, yakni ketua, penasihat, wakil ketua, sekretaris, dan bendahara. Ke depan, struktur organisasi akan dilengkapi sesuai kebutuhan agar mampu menjalankan program-program yang menyentuh langsung kepentingan petani di Buleleng. (Yuda/balipost)

 

BAGIKAN