
BANGLI, BALIPOST.com – Rasa bangga tengah dirasakan I Komang Widanayasa (42), seorang peternak sapi asal Banjar Pulasari Kangin, Desa Peninjoan Kecamatan Tembuku, Bangli. Untuk kedua kalinya secara berturut-turut, sapi peliharaanya kembali dipilih menjadi hewan kurban bantuan Presiden RI untuk Hari Raya Idul Adha.
“Senang tentunya. Bangga sekali,” ungkapnya, Rabu (20/5).
Sapinya yang terpilih tahun ini berjenis sapi Bali jantan berbulu hitam dengan bobot mencapai 650 kilogram. Sapi berukuran jumbo tersebut ditebus oleh pihak Istana dengan harga Rp66 juta.
Ukuran sapi tersebut, ungkap Widanayasa lebih besar dibandingkan dengan sapi sebelumnya yang dipilih jadi hewan kurban Presiden pada Idul Adha tahun lalu. “Yang tahun lalu dibeli beratnya 550 kilogram,” ujarnya.
Widanayasa yang mengaku sudah menjadi peternak sejak kecil, telah merawat sapi berbobot lebih dari setengah ton tersebut selama 3,5 tahun. Sapi itu awalnya dibeli dalam bentuk bibit seharga Rp10 juta.
Dia mengaku tidak memiliki formula rahasia dalam memelihara sapinya. “Perawatannya biasa saja. Pagi diberi rumput, siang diberi minum, dan mandi seminggu sekali. Tidak ada perawatan khusus. Yang penting rutin diberikan suntikan dan vaksinasi untuk menjaga daya tahan tubuhnya,” jelas pria 42 tahun itu.
Ia menambahkan, kunci utama menghasilkan sapi besar ada pada pemilihan bibit awal, khususnya dengan memperhatikan postur tubuh dan bentuk tanduk yang bagus.
Rencananya, sapi yang telah dipesan oleh pihak istana sejak bulan lalu itu akan dikirim antara tanggal 26 atau 27 Mei mendatang. Untuk kepastian lokasi, Widanayasa mengatakan kemungkinan akan diberikan arahan setelah menghadiri rapat di Dinas Peternakan Provinsi Bali pada 21 Mei. “Yang pasti untuk (masjid) di Bangli,” ujarnya.
Dia menambahkan berbeda dengan tahun sebelumnya di mana staf kepresidenan datang langsung ke lokasi, proses pengecekan kondisi fisik sapi tahun ini dilakukan secara daring melalui panggilan video (video call). Kendati demikian, petugas dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli tetap turun ke lapangan untuk melakukan pemantauan fisik secara langsung. (Dayu Swasrina/balipost)










