Wayan Doni Ardita (36), saat menunjukkan ternak sapi miliknya di Desa Perean, Baturiti. (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Kepercayaan Presiden Prabowo Subianto terhadap peternak lokal kembali datang ke Kabupaten Tabanan. Untuk kedua kalinya, sapi milik peternak asal Banjar Anyar, Desa Perean Kangin, Kecamatan Baturiti, I Wayan Doni Ardita (36), terpilih sebagai hewan kurban Presiden pada Hari Raya Idul Adha 2026.

Sapi jantan jenis Bali dengan bobot 474 kilogram itu dibeli seharga Rp 60 juta setelah lolos seleksi ketat tim dari Dinas Pertanian Provinsi Bali dan Kabupaten Tabanan.

Rencananya, sapi tersebut akan diserahkan sebagai hewan kurban di Masjid Nurul Falah, kawasan Terminal Pesiapan, Desa Dauh Peken, Kecamatan Tabanan. Pengiriman dijadwalkan dilakukan sehari sebelum Idul Adha yang jatuh pada 27 Mei 2026.

Baca juga:  Ini, Jadwal Salat 6 Oktober 2025 di Denpasar dan Sekitarnya

Doni mengaku bersyukur ternaknya kembali dipercaya setelah melalui pemeriksaan kesehatan, bobot hingga kualitas daging secara langsung di kandang.

“Pengecekan dilakukan sekitar sebulan lalu. Semua dicek, termasuk kondisi fisik dan kualitas dagingnya,” ujarnya, Minggu (17/5).

Menurutnya, sapi kurban pilihan Presiden tidak hanya dinilai dari ukuran tubuh, tetapi juga mutu daging yang dihasilkan. Karena itu, perawatan dilakukan secara khusus melalui pemberian pakan berkualitas, tambahan konsentrat hingga suntikan vitamin rutin setiap bulan. Bahkan setelah dinyatakan terpilih, pengawasan terhadap sapi semakin diperketat.

“Sekarang kami harus benar-benar menjaga kondisinya. Jangan sampai terjadi sesuatu karena tanggung jawabnya besar,” katanya.

Baca juga:  Kios Pedagang Kain di Besakih Mulai Buka

Doni mengatakan, pengalaman serupa juga dirasakan pada Idul Adha 2025 lalu. Saat itu dua ekor sapi miliknya dengan bobot 485 kilogram dan 515 kilogram dibeli dengan total nilai Rp 85 juta. Kepercayaan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi peternak yang telah menekuni usaha ternak sapi sejak 2014 itu.

Usaha yang awalnya hanya memelihara tiga ekor sapi bersama ayahnya kini berkembang menjadi sekitar 30 ekor sapi jantan untuk kebutuhan kurban dan penjualan bibit. Selain melayani pasar Bali, bibit sapi juga dipasarkan hingga Kalimantan dan Jawa.

Baca juga:  Jelang Bulan Puasa, Harga Daging Mulai Naik

Meski demikian, Doni mengakui usaha peternakan sapi tidak selalu berjalan mudah. Pandemi Covid-19 dan wabah PMK sempat membuat penjualan lesu serta perputaran modal tersendat. Di sisi lain, saat ini populasi sapi dinilai mulai berkurang karena semakin sedikit masyarakat yang berminat memelihara ternak sapi.

Menurutnya, keuntungan usaha ternak sapi juga tidak terlalu besar karena biaya pakan terus meningkat. Untuk kebutuhan harian, dirinya harus membeli rumput segar seperti pohon jagung dan rumput gajah dari petani. Namun kondisi itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus meningkatkan kualitas ternak, termasuk menargetkan sapi kurban berbobot hingga 600 kilogram pada tahun mendatang.(Puspawati/balipost)

BAGIKAN