Gubernur Bali, Wayan Koster saat memberikan sambutan pada acara pelantikan Kepengurusan KONI Bali, di Ruang Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali, Jumat (15/5). (BP/win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Gubernur Bali, Wayan Koster menegaskan komitmennya untuk memperkuat prestasi olahraga Bali sekaligus menjadikan olahraga sebagai penggerak pariwisata dan ekonomi daerah. Hal itu disampaikan saat memberikan sambutan pada pelantikan Kepengurusan KONI Provinsi Bali Masa Bhakti 2026–2030 di Ruang Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali, Jumat (15/5).

Capaian Bali menembus peringkat lima besar hingga bertahan di 10 besar PON, dinilainya merupakan prestasi luar biasa mengingat jumlah penduduk Bali hanya sekitar 4,4 juta jiwa, jauh di bawah provinsi besar di Pulau Jawa.

“Jawa Barat 50 juta penduduk, Jawa Timur 40 juta, Jawa Tengah 30 juta. Secara statistik kita kalah jauh. Jadi kalau Bali bisa masuk 10 besar, apalagi peringkat lima, itu luar biasa,” katanya.

Koster pun meminta kepengurusan KONI Bali yang baru di bawah kepemimpinan Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta untuk menargetkan Bali kembali masuk lima besar PON. “Pak Ketua KONI cukup urus olahraganya. Targetnya Bali kembali dari peringkat tujuh ke lima. Jangan sampai mundur, malu nanti,” ujarnya.

 

Dalam sambutannya, Koster mengaku memiliki pengalaman panjang di bidang kebijakan olahraga sejak menjadi anggota DPR RI selama tiga periode di Komisi X yang bermitra dengan kementerian olahraga dan KONI. Ia mengaku turut terlibat dalam lahirnya Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional sebagai landasan pembangunan olahraga Indonesia secara komprehensif.

Baca juga:  Koster Pastikan Incumbent Kembali Kantongi Rekomendasi di Pilkada Karangasem

“Kebijakan itu mengatur bagaimana memajukan olahraga di Indonesia, termasuk memberikan apresiasi kepada atlet, pelatih, juri, dan seluruh pelaku olahraga. Itu menjadi dasar hukum pembangunan olahraga nasional,” ujarnya.

Koster mengatakan sejak awal menjabat gubernur, dirinya telah meminta KONI Bali memetakan cabang olahraga potensial yang realistis meraih medali di ajang nasional. Menurutnya, karakter masyarakat Bali memiliki kekhususan sehingga tidak semua cabang olahraga bisa dikembangkan dengan hasil maksimal.

“Harus dipetakan secara ketat mana cabang olahraga yang punya potensi emas, perak, perunggu, dan mana yang tidak memungkinkan. Jadi sebelum pertandingan dimulai, kita sudah bisa menghitung peluang medali,” tegasnya.

Selain fokus prestasi, Koster juga menegaskan olahraga akan menjadi bagian penting strategi pengembangan pariwisata Bali berbasis sport tourism dan wellness tourism. Ia ingin Bali rutin menggelar event olahraga internasional.

Baca juga:  Memulai Era Baru di 9 Juli, Koster Minta Camat hingga Perbekel Siapkan Ini

“Kalau bisa tiap bulan ada event olahraga berkelas dunia di Bali. Hotel terisi, pariwisata hidup, olahraga juga hidup. Ini strategi meningkatkan ekonomi Bali,” katanya.

Menurut Koster, event olahraga internasional tidak selalu membutuhkan APBD besar karena peserta dan wisatawan datang dengan biaya sendiri. Pemerintah hanya perlu mendukung fasilitas dan penyelenggaraan dasar.

Di sisi lain, Koster mengakui Bali selama ini belum serius membangun sarana olahraga berstandar internasional. Karena itu, pemerintah akan mulai menyiapkan pembangunan fasilitas olahraga secara bertahap melalui kolaborasi dengan kabupaten/kota dan pihak swasta.

Ia menyebut setiap daerah nantinya akan difokuskan membangun fasilitas olahraga sesuai potensi cabang masing-masing. Langkah ini juga menjadi bagian persiapan Bali untuk menjadi tuan rumah PON di masa depan.

“Kita siapkan dari sekarang. Dua sampai tiga tahun ke depan Bali harus siap menjadi tuan rumah PON,” ujarnya.

Koster juga mengungkapkan rencana revitalisasi kawasan GOR Ngurah Rai Denpasar menjadi sport center modern. Menurutnya, kawasan tersebut sudah lama menjadi perhatian karena kondisinya dinilai kumuh dan tidak layak sebagai wajah olahraga di pusat Kota Denpasar.

Baca juga:  Modus Numpang Tidur, ABG Curi Perhiasan

“Tahun lalu saya sudah bertemu pihak ketiga yang berminat membangun sport center ini. Sekarang sedang tahap FS (feasibility study,red),” katanya.

Ia menjelaskan konsep pembangunan akan memadukan fasilitas olahraga modern dengan kawasan transit oriented development (TOD) dan pusat aktivitas publik. Skema pembangunan diupayakan melalui kerja sama dengan investor agar tidak membebani APBD.

Namun jika kerja sama swasta tidak memungkinkan, pembangunan akan didukung melalui kolaborasi anggaran Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Badung.

“Kalau memungkinkan 2027 sudah perencanaan, 2028 mulai dibangun, dan 2029 selesai sebelum masa jabatan saya berakhir,” tegasnya.

Koster memperkirakan pembangunan sport center tersebut membutuhkan anggaran sedikitnya Rp200 miliar. Kawasan itu nantinya tidak hanya menjadi pusat olahraga, tetapi juga mendukung pertumbuhan UMKM, ruang publik, jogging track, dan ekonomi kerakyatan.

“Ini akan menjadi pusat keramaian baru yang memberi manfaat besar, tidak hanya olahraga tetapi juga ekonomi masyarakat Bali,” katanya.

Di akhir sambutannya, Koster menegaskan dirinya akan menangani langsung pembangunan fasilitas olahraga, sementara KONI Bali diminta fokus meningkatkan prestasi atlet. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN