Sampah pamedek serangkaian Karya IBTK di Pura Agung Besakih dibawa ke TPS3R Banjar Palak. Selama karya volume sampah mengalami peningkatan rata-rata mencapai 10 ton per hari. (BP/nan)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Volume sampah pamedek yang dihasilkan selama pelaksanaan upacara Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) di Pura Agung Besakih, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem mengalami peningkatan. Peningkatan sampah rerata mencapai 10 ton per hari. Hal tersebut diungkapkan Ketua Panitia IBTK Pura Agung Besakih, sekaligus Bendesa Adat Besakih, Jro Mangku Widiartha, Rabu (22/4).

Widiartha mengungkapkan, sampah pamedek yang dihasilkan selama berlangsungnya Karya IBTK di Pura Agung Besakih mengalami peningkatan dibandingkan hari-hari biasa. “Saat hari-hari biasa, sampah yang dihasilkan per hari hanya 3 ton. Tapi, selama berlangsungnya karya meningkat rata-rata menjadi 10 ton per hari,” ucap Widiartha.

Baca juga:  Penyineban Karya IBTK di Pura Agung Besakih Dipuput Enam Sulinggih

Pihaknya menyayangkan kesadaran para pamedek yang masih kurang terkait kebersihan kawasan suci. Pasalnya, para pamedek masih saja membuang sampah sembarangan di sejumlah titik di kawasan Pura Agung Besakih.

Padahal, pihaknya sudah beberapa kali menghimbau kepada seluruh umat yang melakukan persembahyangan agar tidak membuang sampah sembarangan. “Kami tidak menyediakan tong sampah di Mandala Utama Pura Penataran Agung agar pamedek tidak membuang sampah dan membawa kembali sarana upacara usai sembahyang. Tapi, kenyataannya masih banyak pamedek yang membuang sampah sembarangan, kesadaran ini perlu ditingkatkan ke depannya agar tak lagi membuang sampah sembarangan,” harapnya.

Selama pengangkutan sampah pamedek, kata Widiartha, pihaknya tidak mengalami kendala yang berarti. Panitia telah menyiapkan puluhan petugas kebersihan untuk mengangkut sampah-sampah di semua komplek Pura Agung Besakih setiap harinya.

Baca juga:  Mati dengan Kondisi Bagian Tubuh Terpotong, Hiu Paus Tutul Terdampar di Pantai Tegal Besar

“Belum ada kendala, semuanya berjalan lancar. Untuk kendaraan yang dipakai mengangkut sampah sebanyak lima kendaraan, tiga kendaraan besar dan dua mobil kecil,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, untuk sampah yang diangkut tersebut langsung dibawa ke TPS 3R yang berlokasi ke Banjar Palak. Di sana, sampah belum bisa diolah secara maksimal karena terkendala sumber daya manusia (SDM). “Sampah yang datang dari berbagi unsur belum bisa diolah. Setelah karya nanti akan dikerjasamakan dengan badan pengelola terkait pengelolaan sampah tersebut, mulai dari organik, non-organik, maupun residu,” imbuhnya.

Baca juga:  Kerugian Ekonomi Erupsi Gunung Agung Capai Rp 2 Triliun

Menurut Widiartha, dengan adanya surat edaran Gubernur Bali Nomor 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai, serta screening yang dilakukan di pintu masuk utama di Candi Bentar Margi Agung Manik Mas, cukup membantu mengurangi volume sampah plastik.

“Jika tahun-tahun sebelumnya ketika belum ada Edaran Gubernur Bali Nomor 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai dan screening atau pemantauan penggunaan plastik, sampah plastik yang dihasilkan kurang lebih sekitar 15 ton. Tapi, sekarang dengan adanya itu sampah plastik menurun menjadi sekitar 10 ton,” jelas Widiartha. (Eka Parananda/balipost)

BAGIKAN