Kondisi ruas jalan Peken Belayu–Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan.(BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Demi mencegah kerusakan jalan bertambah parah hingga berpotensi putus total atau amblas, kendaraan bertonase besar sementara dilarang melintas di ruas jalan Peken Belayu–Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan. Pembatasan ini diberlakukan menyusul longsor yang menggerus tebing di sisi utara badan jalan dan mengancam keselamatan pengguna jalur tersebut.

Hingga Selasa (21/4), Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali juga telah memasang papan rambu larangan melintas bagi kendaraan berat. Selain itu, sisi utara jalan juga dipasangi pembatas berupa tali pengaman dan side bag untuk mengantisipasi longsor susulan serta mengatur arus kendaraan roda empat agar bergantian saat berpapasan.

Baca juga:  Waspada, Jalur Peken Belayu–Werdhi Bhuana Rawan Begal

Perbekel Peken Belayu, Ida Bagus Nyoman Parwata, mengatakan langkah ini diambil sebagai upaya darurat agar kondisi jalan tidak semakin memburuk. “Truk bertonase besar diminta tidak melintas dan mencari jalur alternatif. Setiap kali kendaraan berat lewat, material tanah kembali runtuh,” ujarnya.

Menurutnya, pembatasan tersebut sangat penting mengingat struktur tanah di sisi jalan kini semakin labil. Jika terus dipaksakan dilalui kendaraan besar, dikhawatirkan badan jalan bisa ambles dan putus. “Kami tidak ingin kondisi bertambah parah hingga memicu kecelakaan atau bahkan jalan putus total,” tegasnya.

Untuk sementara, arus kendaraan dari arah Mengwi menuju Kota Tabanan dialihkan melalui jalur memutar ke utara, melewati Kecamatan Marga, melintas di kawasan Taman Pujaan Margarana, lalu belok kiri menuju Desa Buahan. Terkait penanganan permanen, Parwata menyebut pihak PU Provinsi Bali sudah beberapa kali turun melakukan pengecekan lapangan. Namun, hingga kini belum ada kepastian waktu pelaksanaan perbaikan. “Katanya segera, kami harap bisa secepatnya agar akses utama masyarakat tidak sampai terputus,” pungkasnya.

Baca juga:  Jalani Tes Kesehatan, Koster Ngaku Tetap Fit dengan Minum Ramuan

Seperti diberitakan sebelumnya, longsor terjadi pada Rabu (15/4) setelah tebing di sisi utara jalan ambrol ke aliran Sungai Yeh Ge. Kondisi ini diperparah oleh lalu lintas kendaraan bertonase besar yang kerap melintas di atas ruas tersebut. Dampaknya juga dirasakan warga sekitar. Pengempon Pura Agung dan Pura Anyar diliputi kekhawatiran karena potensi longsor susulan dan luapan sungai masih tinggi.

Bahkan sejumlah pedagang palinggih di sisi barat jalan terpaksa memindahkan usahanya karena tanah di lokasi sudah dinilai tidak stabil. Informasi yang dihimpun, ruas jalan tersebut dibangun di atas terowongan yang kini mengalami pelebaran alami di bagian dalam. Kondisi itu mengikis kekuatan tanah penyangga sehingga jalur di tebing Sungai Yeh Ge semakin rawan longsor. (Puspawati/balipost)

Baca juga:  Digerus Hujan Lebat, Jalan Gesing-Tamblingan Amblas

 

BAGIKAN