Kapolda Bali Irjen Pol. Daniel Adityajaya. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Bali sebagai etalase Indonesia tetap menjadi destinasi favorit dunia. Tidak hanya sebagai pusat pariwisata, juga penggerak investasi, devisa, dan citra bangsa.

Oleh karena itu, Kapolda Bali Irjen Pol. Daniel Adityajaya terus berkoordinasi dan bersinergi dengan stakeholder terkait untuk mewujudkan Bali aman. Bahkan Polda Bali akan menggelar Operasi Sikat Agung Fase 2 dengan fokus beri perlindungan wisatawan asing.

Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Bali AKBP Rina Isriana Dewi, Kamis (9/4) menjelaskan Kapolda Bali intensif melaksanakan dialog dengan pelaku pariwisata dan pejabat di daerah maupun pusat. Tujuannya bersinergi mengantisipasi kejahatan kriminal yg melibatkan WNA di wilayah Bali secara berkelanjutan.

“Selain itu, upaya menekan angka kriminalitas terus dilakukan dengan melakukan kegiatan preemtif, preventif dan penegakan hukum. Salah satunya melaksanakan Operasi Sikat Agung,” tegasnya.

Menurutnya, Polda Bali dan polres jajaran juga mengintensifkan patroli di seluruh kawasan wisata utama, termasuk Seminyak, Canggu, Ubud, Sanur, dan Nusa Dua. Melaksanakan rekayasa lalulintas guna pengawasan lalu lintas wisata serta edukasi lalu lintas guna menjaga keselamatan dalam berkendara.  Termasuk menoptimalkan aplikasi Cakrawasih yg merupakan bentuk sistem pengawasan terhadap orang asing secara real time. “Kami juga membuka hotline 110 yang dapat digunakan wisatawan dengan layanan multibahasa,” ungkapnya.

Baca juga:  Pembersihan Lahan Tol Gilimanuk-Mengwi Terus Dilakukan, Pohon Karet Mulai Dibabat

Pihaknya juga meningkatkan koordinasi dengan Imigrasi, dinas pariwisata, dan kedutaan besar negara sahabat. Melakukan safety briefing berkala dengan asosiasi hotel, vila, dan operator tour.

Perlu diketahui keamanan Bali bukan semata tanggung jawab aparat kepolisian, melainkan tugas kolektif seluruh elemen masyarakat. Pasalnya tanpa stabilitas keamanan, roda pariwisata tidak akan berputar. Sementara tanpa pariwisata, pondasi ekonomi Bali pun akan goyah.

Oleh karena itu, Irjen Daniel menggelar pertemuan dengan  para pemangku kepentingan sektor pariwisata di Gedung Presisi Presisi, beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan tersebut, Kapolda Daniel menegaskan forum ini menjadi sarana konsolidasi lintas sektor untuk menyamakan persepsi. Termasuk memperkuat langkah preventif dalam menjaga keamanan pariwisata Bali yang semakin kompleks di tengah dinamika global. “Bali sebagai etalase Indonesia tetap menjadi destinasi favorit dunia. Tidak hanya sebagai pusat pariwisata, tetapi juga penggerak investasi, devisa, dan citra bangsa,” tegasnya.

Baca juga:  Sidang Korupsi Perumda Dharma Santhika: ASN Ditarik Rp210 Ribu, Ada Terima Beras Berkutu dan Bau Apak

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat, realisasi investasi pada 2025 mencapai sekitar Rp42 triliun, didominasi penanaman modal asing di sektor real estate dan pariwisata. Angka ini menegaskan posisi Bali sebagai ruang ekonomi strategis nasional. Namun tingginya mobilitas wisatawan dan investasi juga menghadirkan tantangan tersendiri. Mulai dari kemacetan, pelanggaran aturan lalu lintas dan adat oleh wisatawan asing, penyalahgunaan izin tinggal, aktivitas usaha ilegal oleh WNA, hingga potensi tindak pidana konvensional serta transnasional.

“Kita patut bersyukur atas kontribusi pariwisata terhadap ekonomi daerah. Namun peningkatan jumlah wisatawan juga membawa konsekuensi tantangan yang semakin kompleks,” ujar mantan Kapolda Kaltara ini.

Kapolda menekankan bahwa penegakan hukum memang penting, namun pencegahan harus menjadi prioritas utama. Menurutnya menindak pelaku kejahatan adalah prestasi, tetapi mencegah terjadinya kejahatan adalah kemuliaan. Oleh karena itu, upaya preventif harus menjadi orientasi utama.

Baca juga:  Desa Sumerta Kelod Bangkitkan Kembali Seni Cak

Untuk itu, Polda Bali telah menyiapkan sejumlah langkah strategis, antara lain penguatan patroli terpadu di kawasan wisata dan objek vital, peningkatan kehadiran polisi pariwisata dan bhabinkamtibmas, serta penguatan sistem deteksi dini berbasis kolaborasi dengan pecalang, desa adat, dan komunitas lokal. Pengawasan lalu lintas wisata diperketat melalui rekayasa arus dan edukasi keselamatan, disertai sosialisasi aturan hukum dan norma budaya Bali kepada wisatawan.

Operasi yustisi dan cipta kondisi juga digelar secara berkala untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan, khususnya yang melibatkan WNA. Keamanan Bali bukan hanya tanggung jawab Polri, melainkan tugas kita bersama. Tanpa stabilitas keamanan, tidak akan ada pariwisata. Tanpa pariwisata, tidak akan ada stabilitas ekonomi. Ia mengajak seluruh stakeholder untuk terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam membangun sistem pengamanan pariwisata Bali yang modern, terintegrasi, responsif, dan berbasis teknologi. (Kerta Negara/balipost)

BAGIKAN