
DENPASAR, BALIPOST.com – Harga plastik belakangan ini mengalami kenaikan. Tidak sedikit pedagang atau pelaku usaha yang mengeluhkan kenaikan harga tersebut. Bahkan kenaikan harga mencapai 50 persen.
Salah seorang pengusaha laundry di kawasan Ubung Kaja, Denpasar Putu Deny saat diwawancarai, Kamis (9/4) mengatakan, kenaikan harga plastik sudah mulai terjadi sejak bulan puasa lalu. Kenaikan rata-rata Rp4.000 per bungkusnya. Seperti plastik ukuran 40 x 60 cm yang sebelumnya Rp36.000 naik menjadi Rp40.000 per bungkus. Plastik ukiran 30 x 50 cm dari Rp28.000 naik menjadi Rp32.000 per bungkus.
“Rata-rata naik Rp4.000 hingga Rp5.000 itu per bungkusnya. Saya kira awalnya karena bulan puasa tidak ada pengiriman harga jadi mahal. Ternyata tingginya harga masih berlanjut sampai sekarang,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI BALI), Sudadi Murtadho mengatakan, kenaikan harga plastik terjadi karena Indonesia masih tergantung bahan baku plastik dari impor. Kenaikan harga disebut mencapai hingga 50 persen.
Menurutnya kenaikan harga plastik ini bukan baru-baru ini terjadi melainkan sudah cukup lama. “Kami pantau sudah cukup lama, pada saat memasuki bulan suci Ramadan harga plastik sudah mulai ada kenaikan. Puncaknya ini harganya yang kami sudah hitung kenaikannya mencapai 50 persen,” kata Edo.
Dia mencontohkan harga plastik kresek yang awalnya Rp10.000 menjadi Rp15.000 per bungkus, kemudian plastik klasifikasi lainnya ada yang naik dari Rp20.000 menjadi Rp 25.000 per bungkus.
“Memang ini risiko jika kita masih mengalami ketergantungan impor sehingga dampak dari perang yang ada di Timur Tengah ini implikasi secara serius ke dalam negeri sehingga kenaikannya akan terus terjadi. Kami pantau memang signifikan sekali harga plastik ini kenaikannya,” terangnya.
Edo menyebut pedagang pasar yang dominan menggunakan plastik untuk membungkus dagangannya sudah teriak dengan kenaikan harga ini. Ia tidak menampik jika kenaikan harga plastik bisa berpotensi mengerek harga komoditas yang dijual di pasaran.
“Emak-emak yang menggunakan plastik untuk dagangannya tentu sudah teriak-teriak, ini akan membuat harga di pasaran juga berpotensi mengalami kenaikan,” imbuhnya. (Widiastuti/balipost)










