
NEGARA, BALIPOST.com – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Negara menggelar razia di blok hunian warga binaan, Senin (6/4). Selain menyisir barang terlarang, petugas juga melakukan tes urine secara acak di tengah kondisi rutan yang mengalami kelebihan kapasitas.
Kegiatan ini melibatkan tim gabungan dari BNNK Buleleng, Kodim 1617/Jembrana, serta Polres Jembrana. Petugas melakukan pemeriksaan menyeluruh di setiap kamar hunian, termasuk barang pribadi, hingga sudut-sudut ruangan.
Kepala Rutan Negara, I Gusti Agus Putra Mahendra mengatakan, pemeriksaan dilakukan pada enam kamar dari total 14 kamar hunian yang ada. “Ini bagian dari komitmen kami untuk menjaga keamanan dan ketertiban di dalam rutan,” ujarnya.
Dari hasil penggeledahan, petugas menemukan sejumlah barang yang tidak diperbolehkan berada di dalam sel, seperti barang pecah belah, sendok berbahan logam, kartu remi hingga paku. Barang-barang tersebut langsung diamankan untuk dimusnahkan.
“Seluruh temuan akan dimusnahkan. Untuk warga binaan yang kedapatan memiliki barang tersebut, akan ditindaklanjuti sesuai prosedur yang berlaku,” tegasnya.
Selain razia, tim medis dari BNNK Buleleng juga melaksanakan tes urine terhadap pegawai dan warga binaan. Sebanyak 35 petugas dan 56 warga binaan dipilih secara acak untuk menjalani pemeriksaan. Hasilnya, seluruh sampel dinyatakan negatif dari penyalahgunaan narkotika.
Langkah ini disebut sebagai upaya deteksi dini sekaligus memastikan lingkungan rutan tetap bersih dari narkoba. “Kami ingin memastikan tidak ada penyalahgunaan narkotika, baik oleh warga binaan maupun petugas,” imbuh Mahendra.
Di sisi lain, ia mengakui kondisi Rutan Negara saat ini mengalami kelebihan kapasitas yang cukup tinggi. Dengan daya tampung ideal 71 orang, jumlah penghuni saat ini mencapai 200 orang. Sebagian besar warga binaan tersebut merupakan kasus narkotika, yakni sebanyak 108 orang.
Upaya yang dilakukan untuk mengurangi kepadatan diantaranya melalui pemindahan ke rutan atau lapas lain, meskipun secara umum kondisi serupa juga terjadi di sejumlah lembaga pemasyarakatan di Bali. “Kondisi ini memang sudah overload. Kami terus berupaya melakukan langkah penanganan, termasuk koordinasi untuk pemindahan warga binaan,” tandasnya. (Surya Dharma/balipost)










