Ny. Seniasih Giri Prasta. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Maraknya kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Buleleng menjadi sorotan serius Ketua Forum Puspa (Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak) Provinsi Bali, Ny. Seniasih Giri Prasta. Ia menegaskan bahwa kekerasan terhadap anak tidak selalu berbentuk fisik, tetapi juga dapat hadir dalam bentuk verbal hingga pengabaian emosional.

“Kekerasan bukan hanya soal fisik. Membentak, berbicara dengan nada tinggi, itu juga kekerasan yang berdampak pada psikologis anak,” tegasnya, Rabu (1/4).

Menurut Seniasih, salah satu kunci utama mencegah kekerasan adalah membangun bonding atau ikatan emosional yang kuat antara orang tua dan anak. Ikatan ini lahir dari perhatian, komunikasi hangat, sentuhan, dan waktu kebersamaan yang berkualitas.

Baca juga:  Kasus Curanmor Marak, Ini Harapan Petinggi Polda

Namun, ia mengakui kondisi tersebut kini mulai memudar, terutama pada keluarga dengan kedua orang tua yang sama-sama bekerja.

Istri Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta ini menegaskan bahwa perempuan tetap berhak berkarier dan berkontribusi pada ekonomi keluarga. Namun di sisi lain, peran sebagai orang tua tidak boleh diabaikan.

“Jangan sampai anak kehilangan perhatian. Bangun keterbukaan, hadir secara emosional. Jangan sampai anak merasa ditelantarkan,” ujarnya.

Baca juga:  Ngeroras di Kusamba Upacarai 223 Puspa

Lebih jauh, Seniasih juga menyoroti fenomena meningkatnya kasus bunuh diri dan perkawinan anak di Buleleng. Ia menilai, kondisi ini tidak lepas dari minimnya perhatian dan kehangatan dalam keluarga.

Anak-anak yang tumbuh dalam situasi keluarga tidak utuh, seperti perceraian atau orang tua yang menikah kembali, kerap mengalami kebingungan dan kehilangan arah.

“Anak merasa tidak punya tempat. Tidak diterima di mana pun. Dari situ muncul keputusan-keputusan impulsif, termasuk perkawinan anak,” ungkapnya.

Baca juga:  Kasus Kekerasan Seksual pada Anak di Sawan Masuk Penyidikan, Tersangka Segera Ditetapkan

Di sisi lain, tantangan juga datang dari derasnya arus teknologi dan media sosial. Tanpa pengawasan, anak-anak rentan terpapar konten negatif dan membandingkan diri dengan orang lain secara tidak sehat.

“Media sosial membuka akses tanpa batas. Anak bisa melihat apa saja tanpa filter. Ini berdampak pada mental dan perkembangan mereka. Orang tua harus hadir mengawasi,” tegasnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN