
DENPASAR, BALIPOST.com – Dampak tidak langsung Siklon Tropis Narelle mulai dirasakan di wilayah Bali. Berdasarkan analisis Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Rabu (25/3) pukul 08.00 WITA, dalam 24 jam ke depan Bali berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai peningkatan tinggi gelombang laut.
Prakirawan BBMKG Wilayah III Denpasar, Kadek Setiya Wati, menjelaskan bahwa tinggi gelombang di Samudera Hindia selatan Bali diperkirakan berada pada kategori sedang, yakni antara 1,25 hingga 2,5 meter. Kondisi ini juga berpotensi meluas ke sejumlah perairan strategis seperti Selat Badung, Selat Bali bagian selatan, dan Selat Lombok bagian selatan.
“Masyarakat perlu mewaspadai dampak cuaca ekstrem seperti jalanan licin dan genangan air, serta peningkatan tinggi gelombang bagi nelayan dan pelaku wisata bahari,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (25/3) malam.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca dan peringatan dini, mengingat dinamika atmosfer masih sangat aktif. Analisis ini berlaku hingga Kamis (26/3) pukul 08.00 WITA dan akan diperbarui sesuai perkembangan terbaru.
Sementara itu, Siklon Tropis Narelle terpantau masih aktif di Samudra Hindia selatan wilayah Indonesia dan berpotensi menguat menjadi badai kategori tiga. Siklon kategori ini tergolong badai kuat dengan kecepatan angin mencapai 118–159 km/jam, yang dapat merusak bangunan, merobohkan pohon, hingga memicu gelombang laut tinggi.
BMKG mencatat, Narelle berkembang dari Bibit Siklon Tropis 96P sejak 17 Maret 2026 dan mulai masuk wilayah pemantauan TCWC Jakarta pada 21 Maret 2026. Per Rabu pagi, sistem ini berada di selatan Nusa Tenggara Timur dan bergerak ke arah barat daya dengan kecenderungan menguat.
Selain Bali, dampak hujan sedang hingga lebat juga berpotensi terjadi di wilayah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Adapun peningkatan gelombang laut diperkirakan terjadi di sejumlah perairan Indonesia, termasuk Laut Sawu, Laut Arafura bagian barat, serta Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga NTT.
Masyarakat diimbau tetap waspada dan menyesuaikan aktivitas, terutama yang berkaitan dengan perjalanan laut dan kegiatan di luar ruangan, guna menghindari risiko akibat cuaca ekstrem. (Ketut Winata/balipost)










