
SINGASANA, BALIPOST.com – Jembatan penghubung Desa Gadungsari, Kecamatan Selemadeg Timur, dengan Desa Pesagi, Kecamatan Penebel, putus total setelah diterjang derasnya aliran Tukad Yeh Ngigih atau dikenal Yeh Ho 2, pada Minggu (22/2) malam.
Akibatnya, akses alternatif antarkecamatan tersebut lumpuh dan warga terpaksa memutar sejauh kurang lebih 14 kilometer melalui jalan nasional untuk membawa hasil bumi.
Dari pantauan di lapangan, kerusakan terparah berada di sisi bagian timur jembatan. Jembatan tersebut hanya bisa dilintasi oleh pejalan kaki karena hanya diberi jalur darurat dari bambu. Sedangkan untuk kendaraan harus memutar melalui jalur nasional.
Perbekel Gadungsari, I Wayan Sindreg menjelaskan, jembatan sepanjang 14 meter dengan lebar 3 meter dan tinggi sekitar 3 meter itu sudah tidak bisa dilalui sama sekali setelah putus diterjang derasnya Sungai Yeh Ngigih pada Minggu malam. “Sekarang kondisinya putus total. Dua hari lalu masih bisa dilewati terbatas, tapi setelah tergerus arus sungai, akhirnya ambruk,” ujarnya, Selasa (24/2).
Menurutnya, sebelum putus total, bagian kaki jembatan di sisi timur sudah lebih dulu jebol. Fondasi saat itu juga sudah “ngambang” akibat dasar di bawahnya terkikis arus sungai.
Sebelumnya, jembatan ini pernah rusak sekitar Oktober–November 2024 lalu. Saat itu, warga bersama seorang pengusaha kelapa setempat sudah pernah melakukan penanganan darurat dengan memasang serabut kelapa dan batang-batang kayu agar kendaraan roda dua maupun roda empat tetap bisa melintas.
“Sejak itu, jembatan ini dikenal warga sebagai jembatan sambuk karena di bagian yang jebol waktu itu dipasangi sambuk dan batang-batang kayu. Tetapi sekarang jebolnya lebih parah bahkan putus tidak bisa dilintasi kendaraan,” ucap Sindreg.
Jembatan yang sudah dibangun sejak tahun 1998 tersebut merupakan jalur alternatif vital. Selain menjadi penghubung antarkecamatan, akses itu kerap dimanfaatkan warga untuk mengangkut hasil bumi. Bahkan, ketika jalur utama mengalami kemacetan, akses ini menjadi pilihan utama masyarakat.
“Sekarang kalau mau ke Pesagi harus memutar lewat jalan nasional, jaraknya sekitar 14 kilometer. Ini tentu memberatkan warga, terutama petani yang membawa hasil panen,” imbuh Sindreg.
Pemerintah desa, lanjutnya, telah melaporkan kerusakan tersebut ke Bupati Tabanan serta Dinas PUPRPKP Kabupaten Tabanan. “Sejak rusak pertama dua tahun lalu sudah kami usulkan, tetapi sampai sekarang belum terealisasi karena anggaran daerah masih fokus menyelesaikan infrastruktur jalan kabupaten. Namun pascaputus total kali ini, sudah dianggarkan untuk perbaikan, kalau tidak salah masih menunggu konsultan,” terangnya.
Pihak desa pun berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah cepat, mengingat fungsi strategis jembatan tersebut bagi aktivitas ekonomi dan mobilitas warga lintas kecamatan.
Terpisah, Sekretaris Dinas PUPRPKP Tabanan, I Gede Partana membenarkan jika perbaikan jembatan tersebut sudah masuk list kegiatan pengerjaan di tahun 2026 dan saat ini masih dalam persiapan pengadaan. Nilai anggaran yang disiapkan sebesar Rp 6,4 miliar, dan rencananya pengerjaan dilakukan sekitar bulan Mei. “Sedang dalam persiapan pengadaan, nanti di lokasi tersebut akan dibangun jembatan baru,” pungkasnya. (Puspawati/balipost)










