
DENPASAR, BALIPOST.com – Tumpukan sampah plastik yang diangkut dari sungai, subak, hingga pesisir Bali tak lagi berakhir di tempat pembuangan. Di gudang sortir Sungai Watch di Denpasar, sampah yang dalam Bahasa Bali disebut lulu itu diubah menjadi produk bernilai ekonomi atau bagus (luwih).
Manajer Lapangan Sungai Watch, I Made Subagia menjelaskan, setiap sampah yang masuk ke gudang telah melalui proses panjang, mulai dari pemasangan trash barrier, patroli sungai, kegiatan clean up, hingga pengangkutan dari area subak di Denpasar Utara dan wilayah lain. “Dari tempat masuknya sampah, ada proses pemilahan satu sampai tiga tahap. Dulu masih manual menggunakan meja sortir, sekarang untuk mempercepat kerja sudah ada alat konversi,” ujarnya.
Setelah dipilah, plastik botol, produk saset kemasan dan khususnya kresek sekali pakai dipres, dicuci, dikeringkan, lalu dicacah menjadi butiran kecil. Proses pencucian dilakukan dengan sistem desentralisasi agar tidak mencemari lingkungan.
Butiran plastik itu kemudian dipanaskan pada suhu tinggi, dipadatkan, dan dibentuk menggunakan mesin presisi tinggi berbasis komputer (CNC). Selanjutnya diserahkan ke cabang usaha yaitu Sungai Design untuk dibuat menjadi produk bernilai ekonomis.
“Untuk satu kursi atau bangku, membutuhkan sekitar 25–30 kilogram sampah plastik. Ini memberi dampak besar bagi lingkungan jika dilakukan berkelanjutan,” jelas Subagia saat diwawancarai, Rabu (11/2) lalu.
Hasilnya bukan sekadar produk daur ulang biasa. Sungai Design memproduksi meja, kursi, tempat tisu, nampan hingga dudukan gelas. Produk berbahan plastik daur ulang yang dijual sekitar ratusan ribu per unit hingga jutaan rupiah.
“Bukan semata soal harga, tapi bagaimana kita menjual kisah perjuangan. Dari sampah yang terabaikan di sungai, mangrove, dan pantai, menjadi sesuatu yang berharga. Kita ingin meninggikan martabat sampah, dari lulu jadi luwih,” katanya, menggunakan istilah bahasa Bali yang berarti dari tidak berguna menjadi lebih bernilai.
Produk-produk tersebut kini diminati berbagai kalangan, mulai dari sektor perhotelan di Bali hingga pasar internasional seperti Prancis, Dubai dan New York, Amerika Serikat. Dalam operasionalnya, Sungai Watch mengelola sekitar 380 trash barrier di sejumlah sungai di Bali.
Untuk wilayah laut, mereka melakukan clean up emergency, terutama di Pantai Kedonganan yang dalam 43 hari kegiatan berhasil mengumpulkan hampir 98,8 ton sampah plastik. “Kami tidak ingin sampah yang terbawa pasang surut kembali lagi ke laut. Karena itu kami fokus di titik dengan volume paling besar,” tegasnya.
Selain Bali, Sungai Watch juga menyusuri sumber-sumber sampah hingga ke Jawa Timur, termasuk Banyuwangi, dengan mendirikan beberapa stasiun pengumpulan. Namun, mereka menekankan pendekatan kolaboratif tanpa saling menyalahkan.
“Kami tidak hanya bersih-bersih. Kami edukasi warga, sosialisasi bagaimana harus berperilaku terhadap sampah. Kerja cerdas itu harus kolaborasi semua pihak,” ujarnya.
Di Denpasar Selatan saja, volume sampah yang terkumpul bisa mencapai lebih dari 1 ton per bulan. Namun bagi Sungai Watch, angka tersebut bukan sekadar data, melainkan peluang untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesadaran lingkungan, sekaligus membuktikan bahwa sampah pun bisa memiliki nilai ekonomi tinggi. (Suardika/balipost)










