Petani saat memanen padi di salah satu lahan pertanian di Kabupaten Tabanan. (BP/bit)

SINGASANA, BALIPOST.com – Sebagai daerah lumbung pangan Bali, Kabupaten Tabanan dijadikan sebagai salah satu lokasi uji coba asuransi pertanian berbasis perubahan iklim atau asuransi parametrik yang digagas Perum Bulog.

Program ini dilaksanakan secara terbatas melalui skema tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) Bulog Peduli Petani. Program ini disosialisasikan pada sejumlah gabungan kelompok tani (gapoktan) di Tabanan, Rabu (28/1).

Direktur SDM dan Transformasi Perum Bulog, Sudarsono Hardjosoekarto mengatakan, perlindungan usaha tani menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya risiko cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.

“Risiko usaha tani harus dikelola secara profesional dan terstruktur. Asuransi pertanian menjadi salah satu instrumen penting untuk melindungi produksi petani sekaligus menjaga ketahanan pangan dari hulu,” ujarnya.

Baca juga:  Mei, Operasional Cyber Control Room Tabanan Diuji Coba

Ia mengatakan, asuransi pertanian konvensional yang selama ini berjalan memang masih minim peminat. Hal itu disebabkan prosedur klaim yang dinilai rumit serta nilai ganti rugi yang belum memberikan manfaat optimal bagi petani.

“Melalui asuransi parametrik, indikator seperti suhu dan curah hujan dijadikan patokan. Jika parameter yang disepakati tidak tercapai, klaim langsung dibayarkan tanpa proses panjang,” jelas Sudarsono.

Menurutnya, asuransi parametrik ini dikembangkan bersama PT Askrindo dan dirancang untuk dapat dikombinasikan dengan asuransi konvensional atau indemnity dalam skema asuransi hybrid.

“Dengan kombinasi ini, kami berharap perlindungan produksi petani bisa lebih maksimal dan petani lebih tertarik mengikuti program asuransi,” katanya.

Baca juga:  XL Axiata Gandeng Indomaret Hadirkan Kartu Perdana “Xtra FUN”

Tak hanya Kabupaten Tabanan, uji coba asuransi parametrik juga dilaksanakan di empat kabupaten lainnya. Masing-masing daerah memperoleh alokasi anggaran Rp50 juta. Pada tahap awal, sebagian premi diberikan kepada kelompok tani tertentu agar petani dapat merasakan langsung manfaat skema tersebut.

“Program ini kapasitasnya memang terbatas. Namun jika petani sudah merasakan manfaatnya, ke depan pembiayaan premi bisa dilakukan secara mandiri atau dibantu pemerintah daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, I Made Subagia mengatakan, pihaknya akan selektif menentukan kelompok tani yang dilibatkan dalam uji coba tersebut.

“Karena ini masih pilot project, kami akan memilih gapoktan yang lembaganya aktif dan petaninya memiliki semangat tinggi. Tujuannya agar hasil uji coba bisa dievaluasi dengan jelas,” ujarnya.

Baca juga:  Jembrana Siapkan Cadangan Beras 100 Ton

Subagia menyebutkan, jumlah petani di Kabupaten Tabanan saat ini mencapai hampir 35 ribu orang. Pada tahun sebelumnya, asuransi pertanian konvensional seperti AUTP sempat berjalan melalui skema pembiayaan bersama antara pemerintah pusat dan daerah, meski pesertanya terbatas.

“Tabanan belum pernah mengalami gagal panen total. Namun serangan hama masih terjadi di beberapa wilayah. Dengan adanya asuransi parametrik, perlindungan tidak harus menunggu gagal panen,” katanya.

Ia menambahkan, apabila uji coba tersebut berjalan baik, hasilnya akan menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan dan anggaran perlindungan petani ke depan. (Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN