Arsip - Petugas menunjukkan angka pada kalkulator di tempat penukaran uang Dolarindo, Melawai, Jakarta. (BP/Ant)

DENPASAR, BALIPOST.com – Bank Indonesia menilai pelemahan nilai tukar rupiah saat ini belum memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Bali, khususnya sektor pariwisata yang menjadi penopang utama ekonomi daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja di Denpasar mengatakan, meskipun perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian dan tren perlambatan, daya tarik utama Bali sebagai destinasi wisata internasional tidak bertumpu pada faktor nilai tukar semata.

“Faktor utama yang menarik wisatawan ke Bali adalah keindahan alam, budaya, dan kenyamanan fasilitas pariwisata. Fluktuasi nilai tukar relatif terbatas pengaruhnya terhadap aktivitas usaha pariwisata di Bali,” kata Erwin, Jumat (23/1).

Struktur ekonomi Bali masih didominasi sektor pariwisata dengan pangsa 40,38 persen, diikuti sektor pertanian sebesar 13,41 persen dan konstruksi 9,24 persen. Kinerja pariwisata tetap solid, tercermin dari tingginya kunjungan wisatawan asing yang berkontribusi 38 persen dan tumbuh 10,27 persen hingga November 2025, serta wisatawan domestik dengan pangsa 62 persen dan pertumbuhan 18,62 persen.

Baca juga:  Jaring 6.433 Pelanggar di 2021, Seribuan Orang Disanksi Denda

Wisatawan mancanegara ke Bali masih didominasi oleh Australia dan India. Hingga 2026, posisi Bali sebagai destinasi unggulan dunia juga dinilai tetap kuat, tercermin dari peringkat pertama Bali sebagai World’s Best Destination versi Tripadvisor Traveler’s Choice Awards Best of the Best.

Erwin menambahkan, hasil survei dan liaison Bank Indonesia dengan pelaku usaha pariwisata menunjukkan pelemahan rupiah tidak terlalu memengaruhi biaya operasional industri. Hal ini karena sebagian besar pasokan barang dan jasa, termasuk kebutuhan perhotelan, bersumber dari dalam negeri dan menggunakan rupiah.

Di tengah gejolak global, Bank Indonesia memprakirakan ekonomi Bali pada 2026 tetap tumbuh kuat di kisaran 5,4–6,2 persen, lebih tinggi dibandingkan nasional. Proyeksi ini didukung oleh kinerja pariwisata yang berkelanjutan, sektor pertanian yang solid, pertumbuhan investasi, serta daya beli masyarakat yang terjaga.

Baca juga:  Hujan Terus Mengguyur, Warga di Zona Merah Bangli Diminta Waspada

Sebelumnya pemerhati ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (FEB Unud), Dr. Putu Krisna Adwitya Sanjaya, S.E., M. Si. menyebutkan, sebagai destinasi wisata internasional, Bali tidak luput dari dampak dinamika nilai tukar tersebut. Di satu sisi, pelemahan rupiah justru memberikan keuntungan kompetitif bagi sektor pariwisata.

Wisatawan mancanegara memperoleh nilai tukar yang lebih menguntungkan, sehingga biaya hidup dan berwisata di Bali terasa lebih murah. “Kondisi ini berpotensi mendorong peningkatan jumlah kunjungan serta memperbesar pengeluaran wisman selama berada di Bali,” katanya.

Baca juga:  Peringatan HUT TNI Saat COVID-19, Ini Dilakukan Dua Kapolres

Tren tersebut dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha pariwisata maupun sektor-sektor lain yang terdampak secara tidak langsung, seperti transportasi, ekonomi kreatif, dan UMKM.

Namun di sisi lain, kata Krisna, pelemahan rupiah juga membawa tantangan besar bagi sektor ekonomi lainnya. Pelaku usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor maupun bahan penolong impor, termasuk industri hotel dan restoran, menghadapi kenaikan biaya operasional.

Harga produk impor seperti makanan dan minuman premium mengalami lonjakan, sehingga pengusaha dihadapkan pada pilihan menaikkan harga jual atau menyerap beban biaya tambahan.

“Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini berpotensi menekan margin usaha dan berdampak pada daya saing Bali sebagai destinasi wisata, khususnya pada segmen tertentu yang sensitif terhadap harga,” ujarnya. (Suardika/balipost)

BAGIKAN