Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan saat mengikuti rapat koordinasi pemulihan pascabencana di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (18/2/2026). (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat untuk tidak khawatir dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah. Ia beralasan perekonomian nasional yang masih ekspansif.

“Ekonomi sedang ekspansi. Daya beli kami jaga mati-matian. Boro-boro krisis, resesi aja belum, melambat saja belum. Kita masih ekspansi, masih akselerasi. Itu yang kami jaga terus dalam beberapa minggu ke depan,” kata Purbaya di Jakarta, Senin (9/3) dikutip dari Kantor Berita Antara.

Sebagai catatan, IHSG pada perdagangan Senin sore ditutup melemah 248,32 poin atau 3,27 persen ke posisi 7.337,37.

Baca juga:  Insinyur Kimia sebagai Garda Terdepan Menuju Indonesia NZE 2060

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 25,47 poin atau 3,28 persen ke posisi 750,57.

Adapun rupiah ditutup melemah 24 poin ke level Rp16.949 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya Rp16.925 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat melemah hingga 70 poin.

Purbaya mengatakan Indonesia sudah memiliki pengalaman yang cukup memadai dengan beberapa krisis yang terjadi sebelumnya, yakni krisis moneter 1998, krisis keuangan 2008, dan krisis akibat pandemi COVID-19 pada 2020.

Dengan berbagai pengalaman itu, Purbaya yakin pemerintah mampu menyiapkan langkah mitigasi atas segala potensi gejolak yang mungkin terjadi.

Baca juga:  APBN Hadir Untuk Wisata Daerah dan Jalan Tol

“Jadi, investor di pasar saham nggak usah takut. Fondasi kami jaga betul. Pengalaman 2008, 2020, kita bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Purbaya menyatakan daya beli masyarakat masih tetap aman dan perekonomian masih jauh dari krisis.

Purbaya melakukan inspeksi dadakan (sidak) di Pasar Tanah Abang, Jakarta, lantaran mendengar spekulasi bahwa perekonomian nasional sedang menuju resesi.

Sementara, menurut Purbaya, berbagai indikator ekonomi menunjukkan bahwa perekonomian nasional dalam kondisi yang baik.

Baca juga:  Jelang Krui dan Nias Pro, Timnas Surfing Latihan Fisik di Bali

Terkait potensi tekanan ekonomi akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, Purbaya memastikan bakal mengambil kebijakan yang bisa meredam dampak lonjakan harga minyak ketika harga sudah di luar kendali Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) nantinya.

APBN, kata dia, akan dipersiapkan semaksimal mungkin untuk menjadi peredam atas gejolak ekonomi (shock absorber).

Dia juga belum berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi di tengah kenaikan harga minyak dunia. Menurutnya, anggaran fiskal masih cukup untuk menampung gejolak saat ini. (kmb/balipost)

BAGIKAN