
DENPASAR, BALIPOST.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak sepenuhnya membawa dampak negatif bagi sektor pariwisata Bali. Di tengah tekanan biaya usaha, kondisi ini justru membuka peluang peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sekaligus menguatkan pergerakan wisatawan nusantara (wisnus).
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Undiknas Denpasar, Prof. Dr. I.B. Raka Suardana, M.M., mengatakan, rupiah yang melemah membuat biaya liburan di Bali menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan asing.
“Untuk hotel dan akomodasi yang menyasar pasar internasional, pelemahan rupiah justru meningkatkan daya tarik Bali karena menjadi destinasi yang lebih kompetitif secara harga,” ujarnya.
Di sisi lain, dampak pelemahan rupiah juga mendorong wisatawan domestik untuk lebih memilih berwisata di dalam negeri dibandingkan ke luar negeri.
“Pelemahan rupiah tentu berdampak pada wisatawan domestik dalam dua cara, yakni wisata domestik menjadi relatif lebih murah, sehingga wisatawan Indonesia memiliki daya beli yang lebih kuat jika dibandingkan perjalanan ke luar negeri (kurs luar negeri lebih mahal dibanding domestik),” imbuhnya.
Kondisi ini tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali. Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, menyampaikan bahwa jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) ke Bali pada November 2025 tercatat sebanyak 2.378.591 perjalanan, meningkat 10,75 persen secara month to month (m-to-m) dan melonjak 32,83 persen secara year on year (y-on-y).
“Secara struktur, perjalanan wisatawan nusantara ke Bali masih didominasi oleh perjalanan intra provinsi, yakni pergerakan antar kabupaten dan kota di dalam wilayah Bali,” jelas Agus Gede Hendrayana.
Pada November 2025, perjalanan intra provinsi tercatat sebanyak 1.949.438 perjalanan atau 81,96 persen, sementara perjalanan inter provinsi mencapai 429.153 perjalanan atau 18,04 persen dari total perjalanan wisnus ke Bali.
“Walaupun secara persentase masih didominasi intra provinsi, kontribusi perjalanan inter provinsi cukup besar dan terus menunjukkan tren peningkatan,” imbuhnya.
Berdasarkan asal daerah perjalanan inter provinsi, Jawa Timur menjadi penyumbang wisatawan nusantara terbesar ke Bali pada November 2025 dengan 156.208 perjalanan, meningkat 0,24 persen secara m-to-m.
Menanggapi data tersebut, Prof Raka menilai penguatan pergerakan wisatawan nusantara menjadi penopang penting bagi pariwisata Bali di tengah pelemahan rupiah. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kontribusi wisatawan domestik masih belum sepenuhnya mampu menutupi dampak negatif dari naiknya biaya usaha akibat pelemahan nilai tukar.
“Rata-rata pengeluaran wisatawan domestik masih lebih rendah dibandingkan wisatawan mancanegara, sehingga kontribusinya terhadap devisa dan pendapatan pariwisata juga lebih kecil,” jelasnya.
Oleh karena itu, ia menegaskan Bali tetap membutuhkan keseimbangan antara pasar domestik dan internasional. Pemerintah didorong untuk memperkuat promosi pariwisata domestik secara tersegmentasi, sementara pelaku usaha perlu menyesuaikan produk dan harga dengan daya beli wisatawan nusantara.
“Wisatawan nusantara dapat menjadi basis permintaan yang lebih stabil, tetapi segmen internasional tetap krusial untuk menjaga kualitas pertumbuhan ekonomi pariwisata Bali,” ucapnya.(Suardika/bisnisbali)









