Arsip foto - Petugas menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta, Jumat (18/10/2024). (BP/Dokumen Antara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih akan berlanjut seiring meningkatnya risiko geopolitik global dan melemahnya fundamental ekonomi domestik.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara saat dihubungi menyampaikan tekanan terhadap rupiah saat ini berasal dari kombinasi faktor eksternal dan internal. Eskalasi geopolitik global, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat dengan Venezuela dan Iran, dinilai memperbesar gangguan rantai pasok berbagai komoditas dunia.

“Pelemahan kurs rupiah merupakan kombinasi meningkatnya risiko geopolitik dan melemahnya kinerja ekspor Indonesia. Ada eskalasi gangguan rantai pasok yang berdampak luas,” ujar Bhima Jumat (16/1).

Menurutnya, kondisi tersebut diperparah oleh fundamental ekonomi Indonesia yang belum solid. Pelebaran defisit APBN, lonjakan utang, serta melambatnya permintaan rumah tangga turut menekan stabilitas nilai tukar.

Baca juga:  Kinerja Agen BRILink Makin Moncer, Raup Fee Based Income Rp.702,7 miliar

“Devisa dari ekspor komoditas seperti nikel dan batu bara sudah tidak bisa diandalkan. Bonanza komoditasnya sudah lewat, sementara ekspor industri pengolahan kalah bersaing dengan Vietnam,” tegasnya.

Bhima memproyeksikan nilai tukar rupiah berpotensi terus melemah hingga menembus Rp17.500 per dolar AS pada semester I 2026, apabila tekanan global dan domestik tidak segera mereda.

Menghadapi kondisi tersebut, Bhima mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam konsumsi dengan mengurangi pembelian barang impor serta menahan belanja di luar kebutuhan pokok.

“Sebaiknya masyarakat mulai mengencangkan ikat pinggang karena turbulensi ekonomi masih akan berlangsung panjang,” ujarnya.

Sementara bagi pelaku usaha, ia mendorong strategi efisiensi melalui pencarian sumber bahan baku yang lebih terjangkau serta pengembangan produk yang berdaya saing ekspor.

Baca juga:  Tambahan Kasus COVID-19 Nasional Capai Sepuluh Ribuan Orang

“Ada peluang pada komoditas seperti kopi yang justru diuntungkan oleh pelemahan kurs rupiah,” tambahnya.

Di sisi lain, dampak pelemahan rupiah juga dirasakan di daerah, termasuk Bali. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Undiknas Denpasar, Prof. Dr. IB. Raka Suardana, M.M. mengatakan, struktur ekonomi Bali yang masih sangat bergantung pada sektor pariwisata membuat daerah ini rentan terhadap fluktuasi nilai tukar.

Pada pertengahan Januari 2026, nilai tukar rupiah tercatat berada di kisaran Rp16.850–Rp16.870 per dolar AS, mendekati level terlemah historis yang pernah terjadi pada April 2025 di kisaran Rp17.100 per dolar AS.

“Pelemahan rupiah berdampak langsung pada kenaikan biaya impor bahan baku, mengingat banyak pelaku usaha pariwisata di Bali masih bergantung pada produk impor,” jelas Prof. Raka Suardana.

Baca juga:  Selama Sepekan, Pertumbuhan Penumpang Domestik di Bandara Ngurah Rai Naik Belasan Persen

Kenaikan biaya impor tersebut meningkatkan cost of goods sold (COGS) dan menekan margin keuntungan pelaku usaha, khususnya pada restoran premium, bar, serta sektor hospitality yang menggunakan bahan baku impor. Tekanan juga dirasakan pada sektor transportasi dan logistik akibat kenaikan harga suku cadang dan biaya operasional.

Meski demikian, Prof. Raka Suardana menilai pelemahan rupiah tidak sepenuhnya berdampak negatif bagi Bali. “Rupiah yang melemah membuat biaya liburan di Bali relatif lebih murah bagi wisatawan mancanegara, sehingga daya tarik Bali di pasar internasional justru meningkat,” ujarnya.

Namun ia mengingatkan, dampak positif tersebut tidak otomatis menutupi tekanan biaya usaha dan penurunan daya beli masyarakat lokal, sehingga diperlukan strategi adaptif dari pelaku usaha dan dukungan kebijakan dari pemerintah daerah. (Suardika/bisnisbali)

BAGIKAN