Nyoman Parta mengecek dugaan tumpahan solar di kawasan mangrove yang mati di wilayah Benoa kembali ditemukan. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Anggota Komisi III DPR RI Dapil Bali, I Nyoman Parta, kembali menyoroti dugaan tumpahan solar di kawasan mangrove yang mati di wilayah Benoa. Ia mengaku mencium bau menyengat saat meninjau langsung lokasi tersebut, Selasa (3/3).

“Saya tadi sambil menuju ke Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai sempat mampir ke lokasi mangrove yang mati di kawasan Benoa. Ada solar lagi di lokasi dan baunya menyengat,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (3/3).

Parta mengaku khawatir jika solar tersebut meluber dan terbawa air pasang, dampaknya akan semakin luas dan menyebabkan lebih banyak mangrove mati. “Kalau ini tidak segera ditangani, saat air pasang bisa makin meluas dan tambah banyak yang mati,” tegasnya.

Baca juga:  Hanya 1 Kabupaten Laporkan Nihil Tambahan Kasus COVID-19

Ia juga menyoroti peran sejumlah BUMN yang berkaitan dengan aktivitas di kawasan Pelabuhan Benoa. Menurutnya, Pertamina sebagai perusahaan milik negara merupakan wajah depan negara yang semestinya menunjukkan tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan.

Selain itu, Parta turut menyinggung KSOP Kelas II Benoa selaku otoritas pelabuhan serta Pelindo sebagai operator Pelabuhan Benoa. Ia menilai belum terlihat inisiatif yang jelas dalam menangani persoalan tersebut.

Baca juga:  Nasional Catatkan Hampir 7.000 Kasus COVID-19 Baru, Penanganan Masih Terkendali

“BUMN ini ambil uang saja di Bali, tapi kalau ada masalah saling lempar dan mengelak. Sayang sekali tidak punya empati dan tanggung jawabnya rendah,” kritiknya.

Ia mendesak agar instansi terkait segera turun tangan melakukan investigasi dan penanganan cepat guna mencegah kerusakan ekosistem mangrove yang lebih parah. Mangrove Benoa selama ini dikenal sebagai salah satu benteng alami pesisir sekaligus habitat penting bagi berbagai biota laut di Bali selatan.

Baca juga:  Jadi Lokomotif Pengganti Pariwisata, Bali Perlu Siapkan "Rel" Khusus Pertanian

Sebelumnya, Parta juga menemukan ratusan tanaman mangrove mati di kawasan Jalan Raya Pelabuhan Benoa pada 20 Februari 2026 lalu. Berdasarkan hasil analisis laboratorium yang dilakukan oleh tim Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana (Unud) mangrove mati dipastikan akibat kontaminasi bahan bakar minyak jenis solar. Kasus ini telah dilaporkan ke Polda Bali. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN